BINTAN (HK) – Festival dan Kenduri Durian Bintan yang digelar Minggu (26/7) di Desa Bintan Buyu tidak hanya menuai apresiasi, namun memunculkan kekecewaan dari sejumlah masyarakat yang hadir.
Beberapa pengunjung mengaku datang dengan harapan dapat menikmati durian secara langsung sesuai tema kegiatan. Namun, hingga acara berakhir mereka mengaku tidak mendapatkan buah durian.
Sementara itu juga, elemen masyarakat mempertanyakan transparan terkait penggunaan anggaran pada kegiatan tersebut, mulai dari Bintan Trekking, Kenduri dan Festival Durian Bintan.
Menanggapi hal itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bintan bersama Ketua Panitia Bintan Trekking 2026 dan Festival Durian Bintan memberikan klarifikasi terkait polemik anggaran penyelenggaraan Bintan Trekking 2026 yang dirangkaikan dengan Festival dan Tradisi Kenduri Durian di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan.
Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul berkembangnya berbagai informasi di tengah masyarakat mengenai sumber pendanaan kegiatan, termasuk anggapan bahwa seluruh rangkaian acara merupakan agenda yang sepenuhnya dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Bintan.
Dalam pertemuan bersama sejumlah awak media di salah satu kafe kawasan Ganet, Tanjungpinang, Senin (27/7) malam, Kepala Disbudpar Kabupaten Bintan Arief Sumarsono, S.T., M.M., menjelaskan bahwa sejak tahap perencanaan, Pemerintah Kabupaten Bintan hanya mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan Bintan Trekking 2026, bukan untuk keseluruhan rangkaian Festival Kenduri Durian.
Menurut Arief, dukungan pemerintah telah direalisasikan sesuai kebutuhan yang diajukan panitia, antara lain penyediaan tenda, sistem tata suara (sound system), serta konsumsi prasmanan bagi tamu undangan.
“Sejak awal kami memang hanya menganggarkan kegiatan Bintan Trekking 2026 sekitar Rp200 juta.
Apa yang diajukan panitia untuk kegiatan tersebut sudah kami fasilitasi sesuai kemampuan anggaran pemerintah,” sebut Arief.
Ia menjelaskan, sejak awal pembahasan kegiatan turut melibatkan unsur panitia dari Persatuan Zuriat Bintan serta salah satu perusahaan travel yang direncanakan menjadi sponsor utama Festival Durian.
Namun, menjelang pelaksanaan kegiatan, pihak travel yang sebelumnya menyatakan kesediaan memberikan dukungan operasional dikabarkan tidak lagi dapat dihubungi sehingga sebagian rencana kegiatan tidak dapat terlaksana secara maksimal.
Arief menegaskan bahwa Festival Durian sejak awal dirancang dengan dukungan sponsor, sedangkan Kenduri Durian merupakan tradisi masyarakat yang dilaksanakan secara swadaya melalui partisipasi warga, baik dalam bentuk sumbangan buah durian maupun dukungan lainnya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Zuriat Bintan sekaligus Ketua Panitia, Muhammad Ali, S.E., membenarkan adanya perubahan dukungan dari pihak sponsor yang berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan.
Meski demikian, ia menegaskan tidak ingin menyalahkan pihak mana pun dan menganggap pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan di masa mendatang.
“Kami tidak menyalahkan siapa pun. Ini menjadi pelajaran berharga bagi kami agar ke depan lebih selektif dalam membangun kerja sama dan kemitraan dengan pihak sponsor. Segala kerugian, baik material maupun tenaga yang telah kami keluarkan, kami anggap sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,” ujar Muhammad Ali.
Atas nama panitia, Muhammad Ali juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kabupaten Bintan dan Provinsi Kepulauan Riau apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan tahun ini.
“Kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat Bintan khususnya, dan masyarakat Kepulauan Riau pada umumnya. Insya Allah ke depan kami akan berupaya menghadirkan kegiatan yang lebih baik, lebih matang, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhya.
Menanggapi beredarnya opini di media sosial yang menyebut Festival Durian hanya dinikmati oleh pejabat, Muhammad Ali memberikan penjelasan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara Kenduri Durian dan Festival Durian.
Ia menjelaskan, Kenduri Durian merupakan tradisi tahunan masyarakat Desa Bintan Buyu berupa doa bersama sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus harapan agar musim panen berikutnya lebih baik.
Sementara itu, Festival Durian lebih diarahkan sebagai kegiatan promosi pariwisata untuk memperkenalkan kualitas durian lokal Bintan kepada wisatawan dan masyarakat luas.
“Kami berharap masyarakat dapat melihat kegiatan ini secara utuh. Kenduri adalah tradisi masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun, sedangkan festival merupakan media promosi agar potensi durian Bintan semakin dikenal dan mampu meningkatkan kunjungan wisata serta perekonomian masyarakat,” katanya. (r/eza)





