BATAM (HK) – Upaya mencegah stunting tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan gizi anak. Pengetahuan orang tua tentang pola makan sehat dan pola asuh juga menjadi kunci penting dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Hal inilah yang diperkuat Alfamart melalui Program Satu Telur Sehari (STS), bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional 2026.
Di Kota Batam, sebanyak 25 anak penerima manfaat Program Satu Telur Sehari bersama orang tuanya mengikuti edukasi gizi di Puskesmas Kampung Jabi, Jumat (24/7/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan tenaga kesehatan dan ahli gizi untuk memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang, khususnya pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Dalam edukasi tersebut, dr. Irene menjelaskan, stunting merupakan persoalan yang dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari kurangnya asupan gizi, infeksi berulang, lingkungan yang tidak sehat, pola asuh yang belum optimal, hingga keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
Menurutnya, masa 1.000 HPK merupakan periode paling penting dalam mencegah stunting.
“Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan waktu terbaik untuk mencegah stunting. Sejak anak masih dalam kandungan, kebutuhan gizi ibu harus terpenuhi selama masa kehamilan. Setelah lahir, pemenuhan gizi seimbang pada anak juga menjadi faktor penting agar tumbuh kembangnya berlangsung optimal,” ujar dr. Irene.
Ia menambahkan, usia 6 hingga 24 bulan merupakan periode penting untuk memperbaiki status gizi anak. Pada masa ini, protein hewani, termasuk telur, menjadi salah satu sumber nutrisi yang mendukung pertumbuhan anak, dengan tetap diimbangi makanan bergizi lainnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Kampung Jabi, dr. Ade Safitri, MM, meluruskan anggapan yang masih berkembang di tengah masyarakat bahwa terlalu banyak mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisulan.
“Bisulan bukan disebabkan karena terlalu banyak makan telur, melainkan akibat infeksi bakteri. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir memberikan telur kepada anak selama dikonsumsi sesuai kebutuhan gizinya,” jelasnya.
Tak hanya memberikan edukasi, kegiatan tersebut juga diisi dengan demo memasak kudapan sederhana berbahan dasar telur. Kudapan dibuat dengan cara yang menarik agar lebih disukai anak, sekaligus tetap mempertahankan kandungan gizinya.
Sasar 2.700 Anak di 39 Kabupaten/Kota
Program Satu Telur Sehari merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Alfamart dalam mendukung upaya percepatan penanganan stunting di Indonesia.
Memasuki tahun keempat pelaksanaannya, program tersebut menargetkan 2.700 anak terindikasi stunting di 39 kabupaten/kota. Selama enam bulan pelaksanaan sejak Mei 2026, lebih dari 510.000 butir telur disalurkan kepada penerima manfaat.
Program ini menyasar anak usia 1 hingga 3 tahun yang terdata terindikasi stunting berdasarkan pendataan bersama Dinas Kesehatan dan kader Posyandu di masing-masing daerah.
Setiap anak menerima bantuan satu butir telur setiap hari. Penyaluran dilakukan secara berkala melalui Dinas Kesehatan maupun kader Posyandu setempat agar pendampingan terhadap penerima manfaat dapat terus berjalan.
Jangkauan program tersebut juga terus mengalami peningkatan.
Pada 2022, Alfamart menyalurkan 177.000 butir telur kepada 1.000 anak di 10 kabupaten/kota. Kemudian pada 2024, sebanyak 103.000 butir telur disalurkan kepada 591 anak di 12 kabupaten/kota.
Pada 2025, cakupan program diperluas menjadi 25 kabupaten/kota dengan distribusi 189.000 butir telur kepada 1.000 anak.
Sementara pada 2026, Program Satu Telur Sehari mencapai pelaksanaan terbesar sejak pertama kali dijalankan, dengan distribusi lebih dari 510.000 butir telur kepada 2.700 anak di 39 kabupaten/kota.
General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan pengembangan program dilakukan berdasarkan evaluasi dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.
“Program ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Perluasan ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pihak mampu menghadirkan dampak yang semakin besar dalam mendukung upaya penurunan stunting di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah telur yang disalurkan maupun luas wilayah penerima manfaat. Lebih dari itu, perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak juga menjadi indikator penting.
Berdasarkan hasil monitoring internal pada 2025, sekitar 72 persen anak penerima manfaat mengalami peningkatan berat badan sebagai salah satu indikator perbaikan status gizi.
Capaian tersebut menjadi dasar bagi Alfamart untuk terus memperkuat program melalui pendampingan dan edukasi kepada orang tua.
“Intervensi gizi akan lebih optimal ketika dibarengi dengan peningkatan pengetahuan orang tua. Karena itu, kami tidak hanya memberikan telur, tetapi juga menghadirkan edukasi langsung dari para ahli agar keluarga memahami pentingnya gizi seimbang, pola makan yang tepat, serta pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak melalui kegiatan pemberdayaan,” kata Rani.
Ia berharap Program Satu Telur Sehari tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga.
“Harapannya, Program Satu Telur Sehari membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga dan berkontribusi pada upaya nasional menekan angka stunting,” tutupnya. (r/dam)





