Opini PENDIDIKAN

Ketika Sebuah Kasus Menjadi Viral: Kekuatan Publik di Era Digital

Fadli Ilham, Dosen Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Opini Oleh: Fadli Ilham
Dosen Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Di era digital, sebuah cerita dapat berubah menjadi perhatian publik hanya dalam hitungan jam. Pengalaman pribadi yang sebelumnya hanya diketahui keluarga atau komunitas kecil kini dapat tersebar luas melalui media sosial, memperoleh dukungan masyarakat, bahkan mendorong pihak berwenang memberikan perhatian.

Fenomena ini menunjukkan munculnya kekuatan baru dalam kehidupan sosial modern: kekuatan viral.

Media sosial telah mengubah cara masyarakat menyampaikan aspirasi. Jika sebelumnya suara publik lebih banyak disalurkan melalui lembaga, organisasi, atau media konvensional, kini setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman, kritik, dan harapan secara langsung kepada publik.

Perubahan ini sejalan dengan semakin luasnya akses internet. Berdasarkan Survei Internet Indonesia 2025 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet Indonesia mencapai 229,4 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 80,66 persen. Internet kini bukan sekadar sarana hiburan, tetapi telah menjadi ruang interaksi sosial, pertukaran informasi, dan penyampaian aspirasi.

Tembus Scopus Q2, Kolaborasi Riset Dosen STAIN SAR Kepri Soroti Praktik Lintas Iman Toleransi Sosial Senggarang

Di ruang digital, masyarakat tidak lagi hanya menjadi penerima informasi. Mereka juga menjadi pembuat, penyebar, sekaligus pengawas berbagai peristiwa. Sebuah unggahan sederhana dapat berkembang menjadi perhatian luas ketika banyak orang merasa memiliki kepedulian yang sama.

Viralitas sebagai Kekuatan Partisipasi
Viralitas pada dasarnya merupakan bentuk baru partisipasi masyarakat. Ketika sebuah isu mendapat perhatian luas, publik dapat terlibat dengan menyebarkan informasi, memberikan pendapat, menggalang dukungan, hingga mendorong pihak terkait memberikan respons.

Manuel Castells melalui konsep network society menjelaskan bahwa kekuatan sosial semakin terbentuk melalui kemampuan individu dan kelompok membangun koneksi, mengelola informasi, dan menciptakan pengaruh melalui jaringan komunikasi. Artinya, di era digital, kekuatan tidak hanya berada pada institusi besar, tetapi juga dapat muncul dari masyarakat yang mampu terhubung dan bergerak bersama.

Karena itu, viralitas bukan sekadar persoalan jumlah tayangan atau popularitas. Ia dapat menjadi kekuatan sosial ketika perhatian publik diarahkan untuk membangun solidaritas, kesadaran, dan perubahan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran John Dewey bahwa demokrasi bukan hanya sistem pemerintahan, melainkan cara hidup yang dibangun melalui komunikasi dan partisipasi masyarakat. Dalam konteks ini, ruang digital dapat menjadi bagian dari ruang demokrasi baru untuk menyampaikan aspirasi dan membangun kepedulian.

Kabut Asap Semakin Menjadi-jadi, Bupati Cen: BDR Disambung Lagi

Berbagai gerakan penggalangan bantuan kemanusiaan, dukungan terhadap korban bencana, kampanye lingkungan, hingga penyampaian keluhan terhadap layanan publik menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang solidaritas baru.

Namun, kekuatan tersebut harus disertai tanggung jawab. Partisipasi digital tidak cukup hanya dengan membagikan informasi. Ada kewajiban untuk menjaga kebenaran, etika komunikasi, dan hak orang lain.

Viral Bukan Ukuran Kebenaran
Di sisi lain, viralitas perlu dipahami secara kritis. Dalam era attention economy, sesuatu yang mendapat perhatian besar sering dianggap penting atau benar. Padahal, popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan validitas.

Jumlah tayangan, komentar, dan penyebaran konten menunjukkan besarnya perhatian publik, bukan otomatis menjadi ukuran kebenaran. Masalahnya, kecepatan informasi sering kali lebih tinggi daripada proses verifikasi. Sebuah informasi dapat membentuk opini publik sebelum masyarakat memahami konteks secara utuh.

Karena itu, masyarakat digital membutuhkan literasi informasi. Kemampuan memeriksa fakta, memahami berbagai sudut pandang, dan menahan diri dari kesimpulan terburu-buru merupakan bagian penting dari kewarganegaraan digital.

Satlantas Polresta Tanjungpinang Sosialisasikan Keselamatan Berlalu Lintas di SMPN 7

Viralitas seharusnya menjadi pintu masuk perhatian publik, bukan pengganti proses pencarian kebenaran. Perhatian masyarakat memang penting untuk mendorong perubahan, tetapi penyelesaian masalah tetap membutuhkan data, dialog, dan proses yang objektif.

Fenomena viral juga menjadi pelajaran bagi berbagai institusi bahwa pola komunikasi masyarakat telah berubah. Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi satu arah, tetapi juga ruang untuk didengar dan dilibatkan.

Media sosial karena itu perlu dipandang sebagai ruang publik digital yang memungkinkan komunikasi dua arah antara masyarakat dan institusi. Masyarakat dapat menyampaikan aspirasi, sementara pihak terkait dapat memberikan respons secara terbuka, cepat, dan transparan.

Mengubah Viralitas Menjadi Energi Perubahan
Kekuatan viral menunjukkan bahwa suara masyarakat semakin besar. Namun, tujuan akhirnya bukan membuat setiap persoalan harus menjadi viral agar mendapatkan perhatian. Tujuan yang lebih penting adalah membangun budaya sosial dan institusi yang mampu mendengar aspirasi masyarakat sejak awal.

Seperti yang pernah disampaikan Mohammad Hatta, “Demokrasi kita haruslah demokrasi yang berakar dalam masyarakat.” Pemikiran tersebut mengingatkan bahwa kekuatan demokrasi tidak hanya berada pada lembaga formal, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dalam kehidupan bersama.

Dalam masyarakat digital, viralitas menjadi salah satu bentuk baru partisipasi warga negara. Sebuah perhatian kecil dapat berkembang menjadi gerakan sosial ketika diarahkan dengan kepedulian, tanggung jawab, dan tujuan yang jelas.

Sebuah masalah tidak menjadi penting hanya karena banyak orang membicarakannya. Sebaliknya, persoalan tetap memiliki nilai meskipun hanya dialami satu orang. Nilai kemanusiaan tidak ditentukan oleh jumlah perhatian yang diterima, tetapi oleh kesadaran bahwa setiap suara memiliki arti.

Pada akhirnya, kekuatan viral bukan terletak pada seberapa cepat sebuah informasi menyebar, melainkan bagaimana perhatian bersama diarahkan menjadi perubahan yang bermanfaat.

Di era digital, suara masyarakat semakin kuat. Tantangan kita bukan sekadar bagaimana menjadi viral, tetapi bagaimana menggunakan kekuatan tersebut untuk membangun ruang sosial yang lebih peduli, terbuka, dan berkeadilan.

Sebab, teknologi hanyalah sarana. Perubahan tetap membutuhkan manusia yang memiliki kepedulian, kesadaran, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam kehidupan bersama.***