Opini Oleh: Fadli Ilham, Dosen Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Duka kembali menyelimuti Tanah Papua. Tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya meninggal dunia dalam serangan bersenjata di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Papua Pegunungan, pada Rabu, 9 September 2026. Mereka adalah Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Wili Mbuik.
Saat peristiwa itu terjadi, mereka sedang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya melakukan perjalanan dari Wamena untuk meninjau pelaksanaan kegiatan cetak sawah dan menyalurkan bantuan ternak kepada masyarakat.
Namun, dalam perjalanan kembali menuju Wamena, rombongan tersebut dihadang oleh kelompok bersenjata.
Tiga orang kehilangan nyawa dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, pegawai lainnya berhasil menyelamatkan diri dan mencari perlindungan.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana memilukan setelah serangan terjadi. Kendaraan dinas berhenti di jalan, sementara beberapa korban tergeletak di sekitarnya.
Pemandangan tersebut meninggalkan kesedihan mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Peristiwa Muliama sepatutnya tidak hanya dipandang sebagai berita mengenai kekerasan. Tragedi ini perlu menjadi bahan perenungan bersama mengenai nilai kemanusiaan, persatuan, pengabdian, dan perdamaian sebagaimana terkandung dalam Pancasila.
Pengabdian sebagai Wujud Cinta Tanah Air
Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Wili Mbuik merupakan aparatur yang menjalankan tugas pelayanan publik. Mereka datang ke tengah masyarakat bukan untuk berperang, melainkan untuk mendukung pembangunan pertanian dan peternakan.
Tugas mereka mungkin terlihat sederhana. Meninjau kegiatan cetak sawah, memberikan bantuan ternak, mendampingi masyarakat, dan memastikan program pemerintah terlaksana dengan baik.
Akan tetapi, pekerjaan tersebut memiliki arti penting karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Pengabdian kepada negara tidak selalu diwujudkan dengan mengangkat senjata. Seorang guru yang mengajar di daerah terpencil, tenaga kesehatan yang melayani masyarakat di pedalaman, penyuluh pertanian yang mendampingi petani, dan ASN yang melaksanakan pelayanan publik juga sedang menjalankan bentuk nyata dari cinta tanah air.
Mereka menghadirkan pelayanan negara hingga ke daerah yang sulit dijangkau. Melalui pekerjaan mereka, masyarakat memperoleh pengetahuan, bantuan, dan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Karena itu, ketiga korban layak dikenang sebagai insan yang gugur dalam pengabdian. Mereka telah menunjukkan bahwa semangat kebangsaan dapat diwujudkan melalui pekerjaan yang dilakukan dengan tanggung jawab dan ketulusan.
Mengingat Kembali Nilai Kemanusiaan
Sila kedua Pancasila berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Sila ini mengandung pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat, hak hidup, dan kedudukan yang harus dihormati.
Kekerasan terhadap warga sipil merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Perbedaan pandangan, kepentingan, identitas, ataupun tujuan politik tidak dapat dijadikan alasan untuk menghilangkan nyawa orang lain.
Dalam kehidupan yang beradab, setiap persoalan seharusnya diselesaikan dengan cara-cara yang menjunjung martabat manusia. Dialog, musyawarah, dan jalur hukum merupakan jalan yang sesuai dengan nilai Pancasila.
Sebaliknya, kekerasan hanya akan meninggalkan ketakutan, kehilangan, dan luka yang panjang.
Duka Muliama mengingatkan kita bahwa kemanusiaan harus ditempatkan di atas segala perbedaan. Ketiga korban mempunyai keluarga yang menantikan kepulangan mereka. Mereka mempunyai orang tua, saudara, kerabat, dan rekan kerja yang menyimpan harapan terhadap masa depan mereka.
Ketika satu nyawa hilang karena kekerasan, yang terluka bukan hanya satu keluarga. Rasa kemanusiaan seluruh bangsa turut terluka.
Persatuan di Tengah Keberagaman
Indonesia dibangun dari keberagaman suku, agama, bahasa, budaya, dan daerah asal. Keberagaman tersebut dipersatukan oleh cita-cita untuk hidup bersama sebagai satu bangsa.
Sila ketiga, “Persatuan Indonesia”, mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci atau meniadakan keberadaan satu sama lain.
Setiap warga negara memiliki hak untuk hidup, bekerja, dan mengabdikan dirinya di seluruh wilayah Indonesia.
Pegawai yang berasal dari luar Papua dan bekerja di Papua merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Demikian pula, masyarakat Papua yang belajar, bekerja, dan menetap di berbagai daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa ini.
Tidak semestinya identitas kesukuan dan daerah asal menjadi pembatas dalam membangun hubungan kemanusiaan. Di mana pun seseorang dilahirkan, ia tetap memiliki martabat dan kedudukan yang sama sebagai warga negara.
Oleh sebab itu, setiap bentuk kekerasan yang dilandasi kebencian terhadap identitas tertentu harus ditolak bersama. Sikap saling mencurigai hanya akan memperlebar jarak sosial, sedangkan persaudaraan dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih damai.
Persatuan tidak berarti menghapus perbedaan. Persatuan berarti kesediaan untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan bekerja sama di tengah segala perbedaan tersebut.
Kisah Wili dan Harapan Keluarga
Di antara kisah yang paling menyentuh dari tragedi Muliama adalah perjalanan hidup Wili Mbuik. Ia merupakan aparatur muda yang baru memulai pengabdiannya di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Sebelum peristiwa tersebut, beredar video percakapan Wili bersama ayahnya ketika mengabarkan bahwa dirinya telah lulus seleksi aparatur sipil negara. Kabar itu disambut dengan tangisan haru dan kebanggaan.
Bagi seorang ayah, keberhasilan anaknya menjadi ASN tentu menjadi sumber kebahagiaan dan harapan.
Menjadi ASN bukan hanya pencapaian pribadi bagi Wili. Keberhasilan tersebut juga menjadi kebanggaan keluarga yang telah mendukung perjalanan pendidikan dan cita-citanya.
Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi duka. Wili harus mengakhiri pengabdiannya ketika sedang melaksanakan tugas bagi masyarakat.
Kisah Wili menyadarkan kita bahwa di balik seragam seorang ASN terdapat kehidupan pribadi dan keluarga yang menunggu kepulangannya. Setiap pegawai memiliki cita-cita, rencana masa depan, serta orang-orang yang mencintainya.
Aprida Rapi dan Alfonsius Albinus Mehan juga memiliki keluarga dan orang-orang terdekat yang merasakan kehilangan serupa. Ketiganya bukan sekadar nama dalam pemberitaan. Mereka adalah manusia yang kehidupannya sangat berarti bagi keluarga dan lingkungannya.
Musyawarah sebagai Jalan Perdamaian
Sila keempat Pancasila menempatkan musyawarah sebagai salah satu prinsip penting dalam kehidupan bersama. Nilai tersebut mengajarkan bahwa perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui dialog, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap kepentingan bersama.
Papua memiliki sejarah, kebudayaan, dan kondisi sosial yang perlu dipahami secara mendalam. Berbagai persoalan yang terjadi membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, kaum muda, dan masyarakat setempat.
Dialog tidak berarti membenarkan kekerasan. Sebaliknya, dialog merupakan upaya mencegah kekerasan terus berulang.
Penegakan hukum tetap diperlukan terhadap pihak yang melakukan kejahatan, sedangkan ruang komunikasi harus terus dibangun untuk memperkuat kepercayaan dan perdamaian di tengah masyarakat.
Tokoh adat dan tokoh agama memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan kemanusiaan. Lembaga pendidikan juga dapat membantu menanamkan penghormatan terhadap perbedaan.
Sementara itu, keluarga dan masyarakat dapat menjadi lingkungan pertama yang mengajarkan bahwa kekerasan bukanlah cara untuk menyelesaikan persoalan.
Perdamaian tidak lahir dalam satu malam. Perdamaian tumbuh dari keberanian untuk mendengarkan, menghormati, dan memandang orang lain sebagai sesama manusia.
Pendidikan Pancasila dan Budaya Damai
Duka Muliama juga memiliki makna penting bagi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Selama ini, Pancasila kerap dipelajari melalui hafalan sila, sejarah perumusannya, dan berbagai ketentuan dalam kehidupan bernegara.
Pembelajaran tersebut penting, tetapi belum cukup. Pancasila harus dihubungkan dengan kehidupan nyata agar peserta didik memahami makna setiap silanya.
Peristiwa Muliama dapat menjadi bahan refleksi tentang akibat ketika nilai kemanusiaan dan persatuan diabaikan. Peserta didik perlu diajak memahami bahwa kekerasan tidak hanya melukai korban, tetapi juga meninggalkan trauma bagi keluarga dan masyarakat.
Pendidikan Pancasila seharusnya membentuk warga negara yang mampu menghargai kehidupan, menyelesaikan perbedaan melalui dialog, menolak diskriminasi, dan menunjukkan kepedulian kepada sesama.
Pendidikan ini tidak bertujuan sekadar menghasilkan warga yang hafal Pancasila, tetapi warga yang mampu menerapkannya dalam tindakan sehari-hari.
Di tengah derasnya informasi digital, pendidikan kewarganegaraan juga perlu mengajarkan etika dalam menggunakan media sosial. Rekaman kekerasan tidak sepatutnya dibagikan secara sembarangan, terlebih jika memperlihatkan kondisi korban secara jelas.
Penyebaran konten semacam itu dapat memperpanjang penderitaan keluarga dan mengurangi penghormatan terhadap martabat korban.
Masyarakat perlu mengedepankan empati, memeriksa kebenaran informasi, serta tidak menggunakan tragedi untuk menyebarkan kebencian terhadap kelompok tertentu.
Merawat Persaudaraan dalam Duka
Tragedi Muliama meninggalkan pesan bahwa nilai-nilai Pancasila selalu relevan dalam menghadapi persoalan bangsa. Kemanusiaan mengajarkan kita untuk menghormati kehidupan. Persatuan mengingatkan bahwa perbedaan asal daerah tidak memisahkan kita sebagai satu bangsa.
Musyawarah menunjukkan jalan penyelesaian yang damai. Keadilan sosial menuntun agar pembangunan dan pelayanan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Ketiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya telah memberikan teladan mengenai pengabdian. Mereka hadir untuk membantu masyarakat dan menjalankan tanggung jawabnya hingga akhir kehidupan.
Cara terbaik untuk menghormati pengabdian mereka adalah dengan menjaga nilai yang menjadi dasar kehidupan bangsa.
Jangan biarkan duka berubah menjadi kebencian terhadap masyarakat atau kelompok tertentu. Biarkan duka menumbuhkan solidaritas, kepedulian, dan tekad untuk memperkuat perdamaian.
Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Wili Mbuik telah berpulang. Namun, pengabdian mereka akan tetap dikenang sebagai bagian dari perjalanan pelayanan publik di Tanah Papua.
Duka Muliama adalah duka seluruh bangsa. Dari peristiwa tersebut, kita kembali diingatkan bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara yang tertulis dalam pembukaan konstitusi.
Pancasila adalah pedoman untuk memperlakukan sesama manusia dengan bermartabat, merawat persatuan, dan membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman Indonesia.***





