Batam Masih Aman dan Tingkatkan Kewaspadaan
BATAM (HK) – Singapura dikabarkan mengalami lonjakan kasus Covid-19 diakibatkan dugaan kemunculan subvarian baru Omicron XBB. Lonjakan kasus itu diketahui terjadi usai gelaran balapan Formula 1 (F1).
Namun untuk di Batam hingga saat ini belum ditemukan penyebaran subvarian baru Omicron XBB Covid 19. Dan hal tersebut, telah dikonfirmasi oleh Dinas Kesehatan Kota Batam dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan kepada Kementerian Kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menanggapi subvarian baru Omicron XBB ditemukan di Singapura itu, mengatakan, hingga saat ini belum ada ditemukan subvarian jenis tersebut di Batam.
“Pihak BTKL (Balai Teknik Kesehatan Lingkungan), dan Kemenkes RI belum ada (laporan),” ujarnya, Kamis (13/10).
Menurut Kadiskes, lonjakan kasus Covid-19 di Singapura bisa saja terjadi karena protokol kesehatan (prokes), sudah tidak ketat seperti awal pandemi. Bahkan saat ini, Pemerintah Singapura sudah memperbolehkan melepas masker.
“Di sana (Singapura), gak berlaku lagi pakai masker,” katanya.
Walaupun begitu, Didi mengatakan, kemungkinan akan ada peninjauan di seluruh pintu masuk (entry point) Pelabuhan Internasional Batam. Tetapi menunggu arahan dari Pemerintah Pusat.
Didi menjelaskan, di samping itu, pihak pemerintah Indonesia secara perlahan akan mengubah Pandemi Covid-19 menjadi endemi. Selain itu, menilai berdasarkan varian-varian sebelumnya, diketahui varian Omicron tidak terlalu bahaya.
“Kalau subvarian sekarang ini, belum tau berbahaya atau tidak,” katanya.
Sementara itu, Kementrian Kesehatan (Ministry of Health/MOH) Singapura membantah hal tersebut.
“Kami sedang memprakarsai tindakan Pofma (The Protection from Online Falsehoods and Manipulation Act 2019) terhadap kebohongan semacam itu,” ujar MOH dalam sebuah pernyataan yang di-posting di situs resminya, Selasa (11/10).
Akan tetapi subvarian baru Omicron XBB sudah ditemukan di Singapura. Peningkatan kasus lokal yang didorong oleh XBB, termasuk lonjakan pasca-akhir pekan Selasa ini, jumlah kasus parah tetap relatif rendah.
MOH menjelaskan sebagian besar pasien terus melaporkan gejala ringan seperti sakit tenggorokan atau demam ringan, terutama jika mereka telah divaksinasi.
“Kami memantau lintasan dengan cermat. Lebih penting lagi, juga tidak ada bukti XBB menyebabkan penyakit yang lebih parah,” katanya.(btn).
