Pekerjaan galian pipa jalan dan antrean panjang lori solar disorot, pelaku usaha bengkel sepeda motor nyaris kehilangan mata pencaharian
– Galian Pipa Jalan dan Antrean Panjang Lori Solar Disorot, Pelaku Usaha Kecil Kehilangan Mata Pencaharian
TANJUNGPINANG (HK) — Nasib pelaku usaha kecil di jalan Raja Haji Fisabilillah km 8 Atas, Tanjungpinang, kini menjadi sorotan.
Sebuah bengkel sepeda motor yang selama ini mengandalkan pelanggan harian mengaku mengalami penurunan pendapatan drastis akibat terganggunya akses menuju lokasi usaha, di tengah pekerjaan galian pipa di badan atau sisi jalan yang berlangsung selama empat hari dan antrean lori pengangkut solar yang disebut telah terjadi selama berbulan-bulan.
Dampaknya bukan sekadar ketidaknyamanan lalu lintas. Bagi pemilik bengkel, kondisi tersebut menyentuh langsung sumber mata pencaharian.
Pelanggan yang biasanya datang untuk memperbaiki kendaraan kini semakin sulit menjangkau lokasi, sementara pendapatan harian terus merosot.
Pemilik bengkel Ijal menyebut, dalam kondisi normal, pendapatan hariannya dapat mencapai sekitar Rp200.000.
Namun, ketika akses terganggu, penghasilan tersebut dilaporkan turun menjadi sekitar Rp20.000 per hari.
“Bahkan, saat pekerjaan galian jalan berlangsung dan akses semakin sulit, kita tidak memperoleh pendapatan sama sekali,” ujarnya kemarin.
Ijal mengungkapkan, gangguan yang ia dirasakan berasal dari dua persoalan berbeda. Pertama, pekerjaan galian pipa di jalan yang berlangsung selama empat hari terakhir.
Kedua, antrean lori pengangkut solar yang disebut telah berlangsung selama berbulan-bulan dan turut mengganggu kelancaran akses di sekitar lokasi.
Ketika kedua kondisi tersebut berdampak pada jalur menuju tempat usaha, pelaku usaha kecil harus menghadapi situasi yang sulit.
Bengkel kecil ini mungkin tetap buka, peralatan tetap tersedia, dan pemilik tetap menunggu pelanggan, tetapi tanpa akses yang memadai, peluang mendapatkan pemasukan ikut terhambat.
Bagi usaha berskala kecil, lanjut dia kehilangan pendapatan selama beberapa hari bukan persoalan sepele.
Uang yang diperoleh setiap hari umumnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, biaya operasional, dan mempertahankan kelangsungan usaha.
“Jika kondisi ini terus berulang tanpa penanganan, bukan tidak mungkin usaha yang selama ini menjadi tumpuan hidup tersebut semakin kesulitan bertahan,” katanya.
Pembangunan infrastruktur dan kegiatan distribusi bahan bakar memang memiliki kepentingan masing-masing.
Namun, pelaksanaannya perlu memperhitungkan dampak terhadap masyarakat dan pelaku usaha yang berada di sepanjang jalur terdampak.
Pekerjaan galian pipa semestinya disertai pengaturan lalu lintas, rambu peringatan, serta akses alternatif yang aman dan memadai. Begitu pula antrean kendaraan berat, yang perlu ditata agar tidak menghambat pintu masuk tempat usaha maupun aktivitas masyarakat.
Persoalan ini kata dia, perlu menjadi perhatian pihak pelaksana pekerjaan, instansi yang bertanggung jawab atas jalan dan lalu lintas, serta pihak terkait dengan antrean lori pengangkut solar.
Masyarakat berhak berharap pembangunan berjalan dengan baik, tetapi keberlangsungan mata pencaharian warga juga tidak boleh diabaikan.
Ijal berharap pihak terkait segera melakukan peninjauan langsung di jalan Raja Haji Fisabilillah km 8 Atas, Tanjungpinang, untuk memeriksa kondisi akses dan dampak yang dirasakan pelaku usaha di sekitar lokasi.
Beberapa langkah yang diharapkan antara lain penataan antrean lori agar tidak menghambat akses usaha, percepatan pekerjaan galian dengan tetap memperhatikan keselamatan, serta penyediaan jalur masuk yang layak bagi pelanggan.
Evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui apakah pengaturan lalu lintas dan pelaksanaan pekerjaan selama ini sudah memperhitungkan kepentingan masyarakat di sekitar lokasi.
“Yang kita butuhkan saat ini bukan sekadar penjelasan, melainkan solusi agar pelanggan kembali dapat menjangkau tempat usaha dan kegiatan ekonomi dapat berjalan normal,” imbuhnya.
Kisah bengkel kecil di km 8 Atas menjadi pengingat bahwa dampak pembangunan tidak selalu dirasakan secara merata.
Ketika akses jalan terganggu, usaha besar mungkin memiliki lebih banyak pilihan untuk bertahan, sedangkan usaha kecil yang bergantung pada pelanggan harian bisa langsung kehilangan pemasukan.
Pendapatan yang sebelumnya mencapai Rp200.000 per hari kini disebut merosot menjadi Rp20.000, bahkan nihil ketika pekerjaan galian berlangsung dan akses semakin sulit.
Pihak terkait diharapkan segera turun ke lapangan, mengevaluasi kondisi, dan mengambil langkah konkret. Sebab, di balik bengkel kecil yang tampak sederhana, ada keluarga yang menggantungkan hidup pada pendapatan harian.
Pembangunan harus tetap berjalan. Distribusi bahan bakar harus tetap tertib. Namun, akses masyarakat dan keberlangsungan usaha kecil juga harus mendapat perhatian yang layak.
Sementara itu, konsultan pengawas proyek pekerjaan galian pipa Joko saat dikonfirmasi terkait dengan adanya kompensasi dan keluhan akses jalan yang terganggu terhadap bengkel motor tersebut akan menyampaikan hal tersebut ke pihak pelaksana pekerjaan.
“Sudah saya sampaikan, jawaban dari beliau tidak ada kompensasinya bg, mohon maag bg,” kata Joko melalui pesan WhatsApp yang ia kirim. (tim)





