JAKARTA (HK) – Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan. Meski indeks dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan kinerja positif, rupiah justru ditutup melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026).
Rupiah ditutup di level Rp18.156 per dolar AS, melemah 9 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.147 per dolar AS. Bahkan, sepanjang perdagangan, mata uang Garuda sempat mengalami pelemahan hingga 35 poin.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi berbagai sentimen eksternal maupun domestik.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 9 poin, sebelumnya sempat melemah 35 poin di level Rp18.156 dari penutupan sebelumnya di level Rp18.147,” tulis Ibrahim dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika indeks dolar AS justru mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan dolar belum cukup memberikan dorongan bagi penguatan mata uang domestik.
Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama peluang diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran serta situasi di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur strategis perdagangan energi dunia.
Peluang pembicaraan diplomatik memang memberikan sedikit ruang kelegaan bagi pasar keuangan. Namun, risiko eskalasi militer masih menjadi perhatian investor karena berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi dan gejolak harga energi global.
Selain itu, pernyataan hawkish sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) turut membayangi pergerakan mata uang negara berkembang. Sikap tersebut membuka peluang kebijakan suku bunga AS tetap tinggi, bahkan berpotensi mengalami kenaikan lebih lanjut.
Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi sebenarnya memberikan sinyal positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mengalami surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Surplus tersebut ditopang nilai ekspor yang mencapai 27,59 miliar dolar AS, sementara impor tercatat sebesar 24,23 miliar dolar AS.
Di sisi lain, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,22 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm), serta 3,23 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Aktivitas sektor manufaktur juga menunjukkan ekspansi. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global meningkat menjadi 54 pada Oktober 2026, dibandingkan 52,4 pada bulan sebelumnya.
Kendati demikian, berbagai indikator positif tersebut belum cukup mengangkat nilai tukar rupiah. Ketidakpastian global, arah kebijakan moneter AS, serta perkembangan geopolitik masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang domestik.
Untuk perdagangan Selasa (3/11/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Ia memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.150 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Sementara itu, sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS.
sumber: wartaekonomi.co.id





