BATAM EKONOMI

Amsakar Genjot Urban Farming, KWT Batam Didorong Jadi Garda Ketahanan Pangan

BATAM (HK) – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menggenjot gerakan pertanian perkotaan (urban farming) dengan mendorong pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pemanfaatan pekarangan rumah. Langkah ini menjadi strategi Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menekan laju inflasi daerah.

Komitmen tersebut disampaikan Amsakar saat membuka Pelatihan dan Sosialisasi KWT serta Pekarangan Lestari yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam di Kantor Wali Kota Batam, Senin (2/11/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Surat Edaran Wali Kota Batam Nomor 55 Tahun 2026 tentang Penguatan Ketahanan Pangan Berbasis Komunitas.

Hadir dalam kegiatan itu Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batam, Erlita Amsakar, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Batam, Erdawati Firmansyah, serta puluhan perwakilan KWT dari berbagai wilayah di Batam.

Pada kesempatan tersebut, Amsakar juga menyerahkan bantuan sarana dan prasarana pertanian secara simbolis kepada perwakilan KWT untuk mendukung pengembangan kegiatan pertanian di lingkungan masing-masing.

Amsakar mengakui, pengembangan sektor pertanian di Batam menghadapi tantangan besar akibat keterbatasan lahan. Sebagai kota industri dan perdagangan, sebagian besar wilayah Batam telah dimanfaatkan untuk kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi.

Namun, keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan produktivitas pertanian lokal, terutama komoditas strategis yang berpengaruh terhadap kebutuhan masyarakat.

“Lahan di perkotaan memang komersial dan terbatas karena peruntukannya untuk kawasan perdagangan dan perumahan. Namun, harus ada ikhtiar nyata agar keterbatasan lahan ini tidak mengganggu produktivitas pertanian lokal, khususnya untuk komoditas strategis penopang ketahanan pangan,” ujar Amsakar.

Menurutnya, urban farming menjadi salah satu solusi untuk mengoptimalkan potensi lahan yang tersedia di tengah kawasan perkotaan.

Melalui pemberdayaan KWT, masyarakat didorong memanfaatkan pekarangan rumah maupun lahan di sekitar perkantoran untuk kegiatan bercocok tanam. Sejumlah komoditas strategis seperti cabai, bawang, dan jagung dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.

Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, hasil pertanian dari pekarangan juga diharapkan dapat memperkuat pasokan komoditas lokal. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat ditekan dan gejolak harga pangan lebih terkendali.

Amsakar juga meminta camat dan lurah mengambil peran aktif dalam menyukseskan gerakan tersebut. Menurutnya, KWT harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun ketahanan pangan mulai dari tingkat keluarga hingga lingkungan permukiman.

“KWT beserta jajaran camat dan lurah harus memandang gerakan ini sebagai sinergi strategis. Program ketahanan pangan tidak hanya milik daerah agraris, tetapi juga sangat vital di perkotaan lewat langkah nyata seperti urban farming maupun penyelenggaraan pasar sembako murah,” tegasnya.

Pemko Batam berharap pelatihan, sosialisasi, serta dukungan sarana dan prasarana pertanian dapat mendorong KWT semakin produktif dan mandiri.

Gerakan ini sekaligus menjadi upaya membangun ketahanan pangan dari lingkungan terkecil, memperluas pemanfaatan pekarangan produktif, serta menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di tengah tantangan ekonomi perkotaan. (r/dam)



Gejolak Global Tekan Rupiah, Kurs Dolar AS Tembus Rp18.156