EKONOMI NASIONAL

Kementerian UMKM Bidik 200 Perusahaan Menengah untuk Melantai di Bursa Efek Indonesia

JAKARTA (HK) – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai mendorong perusahaan menengah di Indonesia untuk memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif sumber pendanaan. Sebanyak 200 perusahaan terpilih dari hasil pemetaan 1.600 perusahaan disiapkan mengikuti program pembinaan menuju penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pembiayaan bagi perusahaan menengah sekaligus mendorong peningkatan skala bisnis agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, mengatakan, dari sekitar 15.300 perusahaan menengah yang tercatat dalam Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT), pemerintah telah melakukan pemetaan terhadap 1.600 perusahaan. Dari jumlah tersebut, 200 perusahaan dipilih untuk mengikuti pembinaan.

“Dari 1.600 yang kami profiling, dari 15.300 ada 200 yang kami undang, sudah kami seleksi untuk bisa nanti mereka memahami bahwa inilah cara bagaimana mendapatkan permodalan melalui bursa saham ini,” ujar Bagus dalam peluncuran Go Public Academy for SME di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (2/11/2026).

Menurut Bagus, perusahaan menengah memiliki peluang besar untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas kegiatan usahanya. Namun, akses permodalan serta kesiapan tata kelola perusahaan masih menjadi aspek penting yang perlu diperkuat.

Melalui pasar modal, perusahaan memiliki alternatif untuk memperoleh pendanaan guna mendukung ekspansi bisnis, meningkatkan kapasitas produksi, hingga memperkuat daya saing.

Kementerian UMKM bersama BEI sebelumnya telah menjalankan program Rise to IPO sejak 2025. Program tersebut menjadi wadah pembinaan dan seleksi perusahaan menengah yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi perusahaan terbuka.

Pelaksanaannya telah menjangkau sejumlah daerah. Di Jakarta, kegiatan pembinaan melibatkan 46 perusahaan, sedangkan di Semarang diikuti 82 perusahaan.

Pada 2026, program tersebut diperluas ke Surabaya dengan 50 perusahaan, Makassar sebanyak 45 perusahaan, dan Bandung sebanyak 58 perusahaan.

Dari rangkaian pembinaan yang telah dilakukan, sebanyak 23 perusahaan kini mengikuti Intensive Coaching Clinic bersama BEI. Pendampingan intensif ini ditujukan untuk memperkuat kesiapan perusahaan dalam mengakses pendanaan melalui pasar modal.

Bagus menjelaskan, Go Public Academy for SME merupakan pengembangan dari program Rise to IPO yang dirancang melalui tujuh tahapan pembinaan.

Materi pembinaan mencakup pengenalan berbagai alternatif pendanaan, penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan kesiapan keuangan, hingga persiapan memenuhi persyaratan untuk melaksanakan IPO.

Dalam pelaksanaannya, Kementerian UMKM juga menggandeng perguruan tinggi untuk membantu proses identifikasi, riset, dan pendampingan perusahaan peserta.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memastikan perusahaan tidak hanya memahami mekanisme pasar modal, tetapi juga memiliki fondasi bisnis, transparansi keuangan, serta tata kelola yang sesuai dengan standar perusahaan publik.

Meski demikian, keikutsertaan dalam program pembinaan tidak serta-merta membuat seluruh perusahaan peserta akan melantai di bursa. Keputusan untuk melaksanakan IPO tetap ditentukan berdasarkan kesiapan perusahaan, kebutuhan pendanaan, dan strategi pengembangan bisnis masing-masing.

Melalui program ini, pemerintah berharap semakin banyak perusahaan menengah Indonesia yang mampu naik kelas, memperluas akses pembiayaan, serta berkontribusi terhadap penguatan sektor usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional.



sumber: wartaekonomi.co.id