Opini Oleh : Fadli Ilham, Dosen Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Seorang mahasiswa dapat menyelesaikan esai dalam hitungan menit dengan bantuan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Susunan kalimatnya rapi, argumentasinya terlihat meyakinkan, bahkan referensinya tampak ilmiah.
Namun, ketika diminta menjelaskan kembali isi tulisan tersebut, ia belum tentu mampu melakukannya. Tugas memang selesai, tetapi apakah proses belajar benar-benar terjadi?
Kehadiran AI telah mengubah cara siswa, mahasiswa, guru, dan dosen menjalani proses pendidikan.
Peserta didik menggunakannya untuk menjawab soal, merangkum buku, menerjemahkan teks, dan menyusun tugas. Pendidik juga mulai memanfaatkan AI untuk merancang bahan ajar, membuat pertanyaan, menyusun studi kasus, dan mencari variasi metode pembelajaran.
Perubahan ini tidak mungkin dihindari. Melarang AI sepenuhnya juga bukan pilihan yang bijaksana. Peserta didik akan hidup dan bekerja di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Karena itu, persoalan yang lebih penting bukan apakah AI boleh digunakan, melainkan bagaimana AI digunakan agar membantu proses belajar tanpa mengambil alih kemampuan manusia untuk berpikir.
AI pada dasarnya tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih pintar. Kualitas hasilnya sangat dipengaruhi oleh kualitas pemikiran penggunanya.
Orang yang memiliki pengetahuan luas dan kemampuan berpikir kritis akan menggunakan AI untuk menguji gagasan, membandingkan pandangan, menemukan kelemahan argumen, dan memperluas pemahaman. Ia mampu memberikan pertanyaan yang terarah serta memeriksa kembali jawaban yang dihasilkan.
Sebaliknya, pengguna yang hanya menginginkan jawaban instan cenderung menerima apa pun yang diberikan AI. Jawaban dianggap benar karena disusun dengan bahasa yang rapi dan meyakinkan. Padahal, AI dapat menghasilkan informasi yang tidak tepat, kutipan yang keliru, bahkan referensi yang sebenarnya tidak pernah ada.
Dalam batas tertentu, AI merupakan cermin sekaligus penguat pemikiran penggunanya. Jika pemikiran penggunanya matang, AI dapat membantu menghasilkan gagasan yang lebih baik.
Jika pemikiran penggunanya masih dangkal dan tidak kritis, AI hanya akan mempercepat lahirnya jawaban yang dangkal. Karena itu, kemampuan memberikan perintah kepada AI tidak dapat menggantikan pengetahuan dasar, wawasan, logika, dan daya kritis.
Sebagai contoh, mahasiswa yang memahami metode penelitian dapat menggunakan AI untuk membandingkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Setelah memperoleh jawaban, ia akan memeriksa kesesuaiannya dengan rumusan masalah, karakteristik data, dan tujuan penelitian. Dalam situasi ini, AI membantu memperluas proses berpikir.
Sebaliknya, mahasiswa yang belum memahami metode penelitian mungkin meminta AI membuatkan seluruh proposal. Dokumen yang dihasilkan terlihat lengkap, tetapi ia belum tentu memahami hubungan antara masalah, teori, metode, instrumen, dan teknik analisis.
AI berhasil menghasilkan dokumen, tetapi tidak berhasil menghasilkan pemahaman.
Inilah salah satu tantangan besar pendidikan di era AI. Kemudahan memperoleh jawaban dapat mendorong manusia memindahkan terlalu banyak beban berpikir kepada teknologi.
Penelitian Michael Gerlich yang diterbitkan dalam jurnal Societies pada 2025 menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan AI, pelimpahan beban kognitif, dan kemampuan berpikir kritis.
Ketergantungan yang berlebihan berisiko membuat seseorang semakin jarang melatih kemampuan menganalisis dan mengevaluasi informasi.
Penelitian Jiajun Tian dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Acta Psychologica pada 2025 juga mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat mengurangi evaluasi kritis dan kemampuan berpikir mandiri.
Namun, AI tidak selalu berdampak buruk. Ketika digunakan secara tepat, teknologi ini dapat menangani pekerjaan sederhana sehingga peserta didik memiliki lebih banyak waktu untuk menghadapi persoalan yang lebih kompleks.
Dengan demikian, persoalan sebenarnya bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan pada cara manusia berinteraksi dengannya. Teknologi yang sama dapat menjadi alat untuk memperkuat pembelajaran atau jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.
Kehadiran AI sekaligus menjadi peringatan bagi dunia pendidikan untuk mengevaluasi sistem pembelajaran dan penilaian. Selama tugas hanya meminta peserta didik menjelaskan definisi, membuat rangkuman, atau menjawab pertanyaan yang tersedia di internet, AI akan mampu menyelesaikannya dalam waktu singkat.
Guru dan dosen perlu merancang tugas yang menuntut pengalaman, pertimbangan, dan pertanggungjawaban pribadi. Tugas dapat berbentuk analisis kasus nyata, observasi lapangan, presentasi, debat, refleksi, atau pemecahan masalah.
Peserta didik juga perlu diminta menunjukkan proses pengerjaan dan menjelaskan alasan di balik jawabannya.
Dalam pendidikan seni dan desain, misalnya, mahasiswa tidak cukup hanya menyerahkan karya akhir. Mereka harus memperlihatkan riset, sketsa, eksplorasi gagasan, proses revisi, pertimbangan visual, dan alasan memilih suatu konsep.
AI boleh digunakan untuk mencari kemungkinan atau memberikan alternatif. Namun, keputusan kreatif dan tanggung jawab terhadap karya harus tetap berada pada manusia.
Pendidikan juga perlu membangun literasi AI dan integritas akademik. Peserta didik harus memahami manfaat, keterbatasan, potensi bias, dan risiko kesalahan informasi yang dihasilkan AI.
Mereka perlu dibiasakan memeriksa sumber, membandingkan informasi, serta menyampaikan secara terbuka apabila menggunakan AI dalam pengerjaan tugas.
UNESCO melalui panduan pemanfaatan AI generatif dalam pendidikan menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia.
Teknologi seharusnya meningkatkan kemampuan manusia, bukan mengambil alih proses berpikir dan pengambilan keputusan. Sejalan dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti pada Februari 2026 menegaskan bahwa AI merupakan alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti guru.
Secanggih apa pun AI, teknologi tersebut tidak dapat sepenuhnya menggantikan pendidik. Guru dan dosen bukan hanya penyampai informasi. Mereka membaca situasi kelas, memberikan teladan, membangun karakter, menumbuhkan keberanian, serta membantu peserta didik menemukan makna dari pengetahuan.
Peran tersebut justru semakin penting ketika berbagai informasi dan jawaban dapat diperoleh dengan sangat mudah.
Tujuan pendidikan bukan menghasilkan tugas yang selesai dengan cepat atau tulisan yang terlihat sempurna.
Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu memahami persoalan, memeriksa bukti, menyusun argumentasi, menciptakan gagasan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Karena itu, AI harus menjadi jalan, bukan tujuan pendidikan. Seperti kendaraan yang membantu seseorang mencapai suatu tempat, AI dapat mempercepat perjalanan belajar. Namun, kendaraan bukanlah tujuan perjalanan. Arah, tujuan, dan makna perjalanan tetap harus ditentukan oleh manusia.
AI dapat menjadi teman berdiskusi, tetapi bukan pengganti pikiran. AI dapat menunjukkan berbagai kemungkinan, tetapi manusia tetap harus menentukan pilihan. AI dapat membantu memberikan jawaban, tetapi manusia harus tetap memiliki keberanian untuk bertanya dan meragukan.
Jika teknologi digunakan untuk memperluas pemikiran, AI dapat menjadi kekuatan besar bagi pendidikan. Namun, apabila AI mengambil alih seluruh proses berpikir, pendidikan mungkin masih menghasilkan banyak jawaban, tetapi semakin sedikit manusia yang benar-benar memahami persoalan.***



