BATAM

Gembleng 136 Kader Bapor di Markas Marinir, SPSI Kepri Perkuat Disiplin dan Integritas Buruh

BATAM (HK) – Sebanyak 136 anggota Barisan Pelopor (Bapor) Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik dan Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP LEM SPSI) Kepulauan Riau (Kepri) digembleng selama tiga hari di Batalyon Infanteri 10 Marinir/SBY, Pulau Setoko, Batam, 9-11 Oktober 2026.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kaderisasi sekaligus membentuk anggota Bapor yang disiplin, tangguh, berintegritas, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Tak sekadar mengasah kemampuan fisik dan mental, pembinaan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme kader dalam mengawal perjuangan buruh di tengah dinamika hubungan industrial.

Ketua DPD FSP LEM SPSI Kepri yang juga Ketua DPD KSPSI Kepri, Saiful Badri Sofyan, mengatakan kekuatan organisasi pekerja tidak cukup hanya diukur dari besarnya jumlah anggota.

Kualitas sumber daya manusia, kepemimpinan, loyalitas, tanggung jawab, dan integritas menjadi faktor penting dalam menentukan arah perjuangan organisasi.

Menurutnya, sebagai salah satu organisasi pekerja tertua dan terbesar, SPSI harus mampu memainkan peran strategis dalam memperjuangkan kepentingan buruh, termasuk mendorong lahirnya kebijakan publik yang berpihak pada kesejahteraan pekerja.

“Organisasi sebesar SPSI seharusnya menjadi organisasi yang paling diperhitungkan dan mampu memengaruhi kebijakan publik maupun politik yang berhubungan dengan buruh,” ujarnya.

Saiful menegaskan, besarnya organisasi harus diimbangi dengan kualitas kader. Tanpa kepemimpinan yang kuat dan integritas yang terjaga, kekuatan organisasi akan sulit diarahkan untuk mencapai tujuan perjuangan bersama.

Karena itu, ia mengingatkan agar Bapor tidak sekadar menjadi wadah untuk mencari popularitas ataupun kepentingan materi. Setiap anggota harus memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari organisasi yang memperjuangkan hak dan kesejahteraan pekerja.

“Kuncinya adalah kepemimpinan dan integritas. Kalau kedua hal itu dimiliki, organisasi akan kuat dengan sendirinya,” katanya.

Tiga Hari Digembleng, Peserta Dibekali Kemampuan Lapangan

Saiful menjelaskan, pelatihan tersebut awalnya direncanakan diikuti 210 peserta. Namun, perubahan jadwal pelaksanaan dari 17 Oktober menjadi 9 Oktober membuat jumlah peserta yang dapat mengikuti kegiatan menjadi 136 orang. Sejumlah calon peserta tidak bisa hadir karena harus menyesuaikan perizinan dari perusahaan masing-masing.

Pelatihan di Batalyon Infanteri 10 Marinir/SBY ini juga menjadi pengalaman pertama bagi SPSI Kepri dalam melaksanakan pembinaan Bapor di satuan tersebut. Pihaknya berharap kerja sama dengan Korps Marinir dapat berlanjut untuk meningkatkan kualitas kader, bahkan dikembangkan menjadi pelatihan berskala nasional di Batam.

Selama tiga hari, peserta menerima berbagai materi, mulai dari Peraturan Baris-Berbaris (PBB), pemberian instruksi, prosedur pimpinan pasukan, tata upacara militer, hingga peraturan penghormatan militer.

Pembinaan juga meliputi bela negara, jungle survival, latihan ketahanan dan kemampuan lapangan, caraka malam, serta penanganan huru-hara (PHH).

Materi disampaikan melalui teori, ceramah, latihan teknis, dan latihan taktis. Seluruh rangkaian tersebut ditujukan untuk membentuk anggota yang disiplin, percaya diri, mampu bekerja sama, serta siap menghadapi tekanan saat menjalankan tugas organisasi.

Saiful menyebutkan, Bapor memiliki dua peran penting, yakni sebagai wadah kaderisasi calon pemimpin dan pengawal organisasi dalam menjalankan kegiatan di lapangan.

Dalam kegiatan penyampaian aspirasi, anggota Bapor bertugas membantu mengatur, menjaga, dan mengawal jalannya aksi agar berlangsung tertib. Namun, peran mereka tidak boleh terbatas pada pengamanan demonstrasi.

“Bapor seharusnya menjadi pengawal jati diri organisasi, simbol-simbol organisasi, serta perjuangan organisasi. Bukan sekadar hadir ketika ada aksi,” tegasnya.

Hadapi Era AI, SPSI Diminta Adaptif terhadap Perubahan Industri

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Saiful mengingatkan pentingnya kemampuan organisasi pekerja dalam beradaptasi dengan perubahan dunia industri.

Menurutnya, kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan buruh. Jangan sampai industri semakin maju, tetapi kehidupan pekerja tidak mengalami perbaikan yang sepadan.

Karena itu, organisasi pekerja harus memahami perubahan dunia kerja sekaligus mendorong kebijakan ketenagakerjaan yang mampu melindungi kepentingan buruh.

Saiful berharap SPSI dapat mengambil posisi sebagai mitra strategis sekaligus mitra kritis pemerintah. Organisasi pekerja, katanya, harus terbuka dalam membangun dialog dan mencari solusi bersama, tetapi tetap berani menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada buruh.

“Kita ingin organisasi ini menjadi mitra strategis sekaligus mitra kritis pemerintah,” katanya.

Marinir: Perjuangan Buruh Harus Cerdas dan Profesional

Sementara itu, Komandan Batalyon Infanteri 10 Marinir/SBY, Letkol Marinir Hariono, mengapresiasi panitia, instruktur, fasilitator, dan seluruh peserta yang mengikuti pelatihan dengan disiplin serta semangat tinggi.

Hariono menegaskan, pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan proses pembentukan mental, penyatuan visi, dan penguatan pemahaman tentang perjuangan kaum buruh.

Menurutnya, tantangan sesungguhnya justru akan dihadapi peserta setelah kembali ke lingkungan kerja masing-masing, terutama ketika berhadapan dengan persoalan di lantai produksi dan dinamika hubungan industrial.

Karena itu, anggota Bapor FSP LEM SPSI diharapkan mampu menjadi garda terdepan yang cerdas, santun, dan profesional dalam menjalankan tugas organisasi.

Hariono mengingatkan bahwa perjuangan buruh tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik ataupun emosi. Perjuangan harus didukung data yang akurat, argumentasi yang kuat, serta pemahaman terhadap hukum dan regulasi ketenagakerjaan.

Ia juga meminta peserta menjaga solidaritas, menghormati perbedaan pandangan, dan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif di lingkungan kerja masing-masing.

Lebih lanjut, Hariono menekankan bahwa serikat pekerja bukanlah musuh perusahaan. Sebaliknya, serikat pekerja dapat menjadi mitra strategis dalam memperjuangkan kesejahteraan karyawan sekaligus membangun hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan.

Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara nyata ketika para peserta kembali ke basis organisasi masing-masing.

Melalui pelatihan ini, Bapor FSP LEM SPSI Kepri diharapkan mampu melahirkan kader yang tidak hanya disiplin dan tangguh, tetapi juga berintegritas, memiliki jiwa kepemimpinan, serta profesional dalam memperjuangkan hak-hak pekerja.

Dengan kaderisasi yang kuat dan pendekatan yang mengedepankan dialog, SPSI Kepri diharapkan semakin mampu meningkatkan daya tawar buruh sekaligus menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berkembang. (dam)



Gerebek Dua Sarang Narkoba di Batam, Ditresnarkoba Polda Kepri Amankan 29 Orang dan 21 Positif Sabu