Mantan Bupati Lingga, Alias Wello saat memberikan masukan kepada para tokoh yang hafir di rumahnya. Para tokoh masyarakat menyatukan persepsi dan melakukan aksi untuk meminta ketegasan Pemkab Lingga menyelesaikan berbagai persoalan tersebut///
LINGGA (HK) – Prihatin Kondisi masyarakat Kabupaten Lingga dinilai semakin terpuruk menjadi perhatian beberapa tokoh masyarakat, pimpinan LSM dan Ormas berkumpul di rumah mantan Bupati Lingga H. Alias Wello di daerah Sungai Lumpur Kelurahan Dabo, Kecamatan Singkep, Senin (21/9/2026).
Dalam pertemuan terlihat tokoh masyarakat dan pimpinan Ormas dan LSM seperti Agus Norman, Nurden , Tengku Nazwar, Zuhardi, Encek Basri, Amir, Syamsir, Abdul Latif
Edwar, Hasran,Ardi Ahmad, Marbeska, Adi Suharyani, Ardiansyah, Wahiduszaman dan tokoh lainnya serta beberapa mahasiswa yang ada di Dabo Singkep.
Lalu apa yang dibahas, ternyata berkumpulnya tokoh, Ormas dan LSM untuk menyatukan persepsi membentuk aliansi untuk “menggugat” Pemkab Lingga membuat kebijakan yang visioner. Selama ini, Pemkab Lingga dinilai gagal membuat kebijakan yang membawa daerah ini keluar dari keterpurukan.
“Ide pertemuan ini awalnya dari Pak Tengku Nazwar, ini adalah awal untuk kita menyatukan persepsi dan membuat aksi pergerakan menggugah pemimpin di daerah ini agar lebih peka akan kondisi masyarakat Lingga saat ini,” kata Alias Wello dalam pertemuan.
Berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil Pemkab Lingga saat ini, turut memperparah kondisi masyarakat. Persoalan pencaplokan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit, perizinan pertambangan timah rakyat hingga kebijakan dibidang pemerintahan dan anggaran hanya dinikmati segelintir orang, sedangkan masyarakat semakin terpuruk.
“Kalau hal ini tidak kita cegah, kedepannya masyarakat Lingga hanya menjadi penonton. Pertemuan ini menjadi awal melakukan pergerakan untuk kemaslahatan masyarakat,” ucap Alias Wello.
Berbagai informasi yang disampaikan para tokoh masyarakat ini akan dihimpun sebagai dasar pergerakan sebagai upaya membawa daerah ini keluar dari keterpurukan. “Persoalan daerah ini akibat kegagalan kepemimpinan daerah. Persoalan yang paling krusial adalah pengelolaan APBD,” tegasnya.
Selanjutnya, sambung Alias Wello, kedepannya akan dibentuk sebuah aliansi solidaritas aksi masyarakat Lingga untuk meminta pertanggungjawaban kepemimpinan atas kondisi yang terjadi di daerah yang berjuluk Bunda Tanah Melayu ini.
“Kita akan undang semua tokoh masyarakat baik di Dabo, Daik dan daerah lainnya. Kita tidak ingin menjadi pahlawan. Ini bukan untuk kepentinga pribadi ini untuk masyarakat,” sebutnya.
Alias Wello dan tokoh masyarakat yang hadir meyakini kalau menunggu pemimpin di Kabupaten saat ini membuat kebijakan maka kondisi perekonomian yang terpuruk tidak dapat diselesaikan. Aliasni yang akan dibentuk akan mendesak Pemkab Lingga memberikan penjelasan secara transparan akan kebijakan pengelolaan anggaran, perizinan perkebunan kelapa dan pertambangan kepada masyarakat.
“Jangan terus membodohi masyarakat dengan janji janji dan kebijakan yang hanya keuntungan pribadi dan koleganya. Kondisi saat ini sedang tidak baik-baik saja,” imbuhnya.
Dalam pertemuan berbagai persoalan yang ada saat ini diantaranya, Maslaah lahan, perizinan perkebunan kelapa sawit, pengelolaan APBD, kasus korupsi yang mandek, pertambangan timah rakyat dan persoalan lainnya. Persoalan ini akan dibawa ke pergerakan aliasni untuk meminta ketegasan dari pemerintah daerah untuk segera mengatasinya (tir)





