LINGGA (HK) – Tradisi meriam bambu kini sudah jarang ditemui. Dulu meriam bambu, atau kerap disapa bedil-bedilan ini menjadi sesuatu kegiatan yang dilakukan remaja dan anak-anak di Bulan Ramadan. Tidak terkecuali
di Provinsi Kepri.
Namun kegiatan tersebut termasuk sudah langka saat ini. Apalagi perkembangan zaman dan modernisasi, menjadikan kegiatan tradisional ini secara perlahan mulai menghilang.
Dinas Pariwisata Kepri pun ingin menghidupkan kembali tradisi unik ini. Apalagi permainan-permainan tradisional sebenarnya menjadi sarana dalam bersosialisasi dan bermasyarakat sejak dulu.
Rencananya, untuk menyemarakan Ramadan 1443 H, lomba bedil atau meriam bambu ini akan digelar di Kabupaten Lingga.
Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar menyambut baik adanya perlombaan tersebut. Buralimar menyebutkan bedil bambu adalah permainan khas anak-anak Melayu, yang merupakan bagian dari semaraknya Bulan Suci Ramadhan, setiap tahun.
“Semoga permainan anak-anak Melayu saat Bulan Ramadhan bisa dilestarikan lewat perlombaan ini. Inilah warna-warni kemeriahan dari tradisi kita. Sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat,” kata Buralimar, Senin (11/4).
Saat ini, ungkapnya, dentuman bedil bambu memang sudah sangat jarang terdengar, seakan kalah dengan petasan.
“Biasanya, menyambut Bulan Ramadhan para remaja beramai ramai membuat meriam bambu. Maka, suara dentuman bedil bambu bersahut-sahutan menjelang waktu berbuka puasa atau usai shalat tarawih,” sebut Buralimar.
Terkait lomba bedil atau meriam bambu tersebut, paparnya, akan dibuat oleh pemuda Kabupaten Lingga, dengan tema “Dentum Ramadhan”.
“Rencananya kegiatan lomba akan digelar pada tanggal 27 hingga 29 April di Lapangan Hang Tuah, Daik, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri,” pungkas Kepala Dinas Pariwisata Kepri, semangat.
Sementara itu Ketua Pelaksana, Rustam Effendi menerangkan, lomba ini dibuat untuk mengangkat kearifan lokal dan melestarikan tradisi masyarakat. “Dan sekaligus menampung kreativitas yang dilakukan masyarakat Lingga, sebagai wujud syukur dan kegembiraan, karena telah berhasil menunaikan ibadah puasa selama Bulan Ramadhan,” kata Rustam
Lewat perlombaan meriam bambu, terangnya, para pemuda mengajak masyarakat Kabupaten Lingga bersaing membunyikan bedil dan mewarnai indahnya Bulan Suci ini.
Lomba bedil ini, imbuh Rustam, juga akan disejalankan dengan memasang pelita ataupun lampu minyak, yang telah menjadi budaya malam likuran di Lingga maupun di Kepri.
“Dentum Ramadhan ini sekaligus untuk memeriahkan rangkaian pintu gerbang pelita pada malam tujuh likur. Kita laksanakan bersama masyarakat Lingga dengan beberapa ketentuan yang dicantum pada flyer Dentum Ramadhan,” ujar Rustam Effendi.
Diterangkan Rustam perlombaan akan dibuka dengan kuota 64 tim. “Satu tim terdiri dari 3 orang. Masing-masing tim menyiapkan bedil bambu dengan ukuran minimal 1,5 meter dan memiliki keamanan serta tiang pancang tegaknya,” katanya.
“Lomba ini tidak memperbolehkan menggunakan karbit, murni menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Dilaksanakan pada pukul 21.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB, setelah shalat tarawih. Dan untuk pesertanya usia minimal 15 tahun, menggunakan sistem gugur,” terang ketua panitia Dentum Ramadhan.
Untuk malam pertama, kata Rustam, di jadwalkan sebanyak 32 tim yang akan ditandingkan dan diambil 8 tim untuk ke malam finalnya. “Begitu juga malam kedua,” ucap Rustam.
Rustam menambahkan malam final bertepatan dengan malam 7 likur, malam 27 Ramadhan yang akan mengadu 8 tim dari grup A dan 8 tim dari grup B. Juara akan ditentukan pada malam final tersebut.
“Juri yang menilai ada dari LAM (Lembaga Adat Melayu) Kabupaten Lingga, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan tokoh masyarakat,” tambahnya.(tbn)
