Kampanye di Perguruan Tinggi diyakini dapat meningkatkan partisipasi mahasiswa sebagai pemilih pemula pada gelaran Pemilu 2024 yang akan datang. Mengingat proporsi pemilih paling besar dari Pemilu 2024 berasal dari kelompok kaum muda. Jika berkaca pada hasil survey Litbang Kompas, diperkirakan pemilih Gen Z (17-23 tahun) 15,82 persen dan gen Y sebesar 35,59 persen dari total jumlah pemilih 190,5 juta.
Artinya kehadiran pemilih dari kaum muda akan mempengaruhi hasil dari Pemilu 2024. Jadi dengan adanya kampanye di Perguruan Tinggi, setidaknya berkontribusi terhadap peningkatan partisipasi pemilih dari segmen pemuda dan pemula.
Uji Kapasitas Calon
Kampanye di kampus dapat dijadikan sebagai ajang uji kapasitas bagi para peserta Pemilu. Setiap gagasan yang dihasilkan oleh peserta Pemilu tentu harus diuji terlebih dahulu. Maka yang cocok dijadikan tempat uji adalah Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi sebagai pabrik pikiran diyakini dapat menguji ide dan gagasan secara kritis.
Perguruan Tinggi yang notabenenya diisi oleh civitas akademika yakni para kaum intelektual dapat menguji langsung visi, misi, dan program dari para peserta Pemilu. Para calon yang akan melakukan kampanye tentu akan berpikir dua kali ketika visi, misi dan program mereka tidak dikonstruksi oleh basis kajian akademik yang kuat. Akhirnya para politisi harus bertungkus lumus dulu dengan teori untuk merumuskan visi, misi dan program.
Selain itu, sebelum melakukan kampanye, para peserta Pemilu akan lebih matang lagi mempersiapkan diri. Karena audiens yang dihadapi adalah para civitas akademika. Diperlukan kemampuan dialektika berbasis pengetahun yang kuat ketika berkampanye di Perguruan Tinggi.
Jika selama ini Pemilu kita identik dengan persaingan berbagi materi, maka dengan dibukanya ruang untuk berkampanye di Perguruan Tinggi, maka Pemilu kita akan bergeser kepada persaingan gagasan. Dengan begitu akan lahir kultur persaingan politik berbasis gagasan intelektual.
Kampanye di Perguruan Tinggi bukanlah hal yang baru. Di beberapa Negara maju yang demokrasinya telah matang malah menjadikan Perguruan Tinggi sebagai wahana debat bagi peserta Pemilu, seperti halnya Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya. Maka tidak ada salahnya apabila wacana kampanye Pemilu di Perguruan Tinggi ditakar terlebih dahulu.***




