Selain itu, menurut Bhima ada hal penting lain yang harus dilakukan pemerintah.
Yakni, melakukan komunikasi dengan pelaku usaha makanan dan minuman olahan agar tidak meneruskan kenaikan harga kepada konsumen.
Apalagi tidak semua pelaku usaha dapat menerima kenaikan harga yang mendadak terjadi ini.
Baca juga: KPK Tahan Eks Dirjen Kemendagri Adrian Noervianto
“Jadi minta pengertian kepada pengusaha bahwa situasi sekarang tidak semua konsumen siap menerima kenaikan harga karena bisa mempengaruhi daya beli. Beberapa pengusaha sudah memahami itu sehingga mereka memilih memotong margin keuntungan dibanding meningkatkan harga jual,” katanya.
Keterbatasan bahan impor dari Ukraina dan Rusia ini, bisa jadi peluang bagi produsen bahan pangan alternatif seperti tepung beras dan jagung.
“Sehingga ketergantungan terhadap gandum impor juga bisa berkurang secara bertahap dengan produktivitas pangan lokal yang lebih meningkat dan dominan,” katanya.
Sumber: Republika.co.id




