Kedua, Baim Wong adalah cerminan nyata dari dongeng Anak Gembala dan Serigala. Diceritakan si Anak Gembala ini suka berbohong kepada warga desa bahwa ada serigala yang datang dan memakan domba-dombanya. Mulanya, warga desa percaya akan berita itu. Mereka lalu segera datang menyelamatkan si Anak Gembala dan domba-dombanya.
Namun, ketika mereka sadar bahwa ternyata itu hanyalah kebohongan yang berulang-ulang saja, lama-kelamaan si Anak Gembala ini sudah tidak lagi dipercaya. Hingga suatu ketika serigala benar-benar datang dan si Anak Gembala butuh pertolongan, sudah tidak ada lagi yang mempercayai ceritanya.
Kisah ini sebenarnya mirip dengan apa yang terjadi pada Baim Wong. Lewat konten-konten di akun Youtube-nya kita semua mengenalnya sebagai orang yang kerap menyamar sebagai gembel, pengemis, hingga waria. Semua itu dilakukan untuk bisa mengeksplorasi kisah hidup dan tragedi dari target kontennya.
Jadi, ketika tiba-tiba ia muncul di tengah kabar pengajuan HAKI atas gerakan sosial bernama Citayam Fashion Week (CFW), tentu hal ini membuat banyak pihak tidak langsung memercayai itikad baiknya. Sebagian besar dari mereka menduga langkah Baim Wong ini hanya melulu perkara keuntungan dan keuntungan belaka.
Saya sendiri kurang sepakat dengan hal itu. Ya, meskipun saya tahu sendiri di tangan beliau kemiskinan (orang lain) saja bisa dengan mudah menjadi cuan, namun saya rasa dalam urusan Citayam Fashion Week ini, beliau telah benar-benar memikirkannya dengan niatan mulia.
Atau bisa juga ini semua hanyalah prank – atau gurauan belaka. Bahwa ternyata Baim Wong yang mengajuan HAKI atas CFW itu adalah Baim Wong palsu yang selama ini meresahkan. Dan ternyata Baim Wong yang asli sedang sibuk mengedukasi Bonge, Roy, Kurma, dan Jeje (para tonjolan dari CFW) untuk membuat yayasan atau semacamnya untuk menjadi wadah koordinasi dan komunikasi anak-anak di daerah Citayam dan sekitarnya. Bisa jadi, kan?




