BATAM EKONOMI

Ekonomi Kepri Tumbuh 6,99 Persen, BI Dorong Sumber Pertumbuhan Baru dari UMKM

BATAM (HK) — Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat pertumbuhan sebesar 6,99 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026. Meski sedikit termoderasi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,04 persen, pertumbuhan ekonomi Kepri masih menjadi yang tertinggi di Sumatera.

Kinerja tersebut juga berada di atas pertumbuhan ekonomi Sumatera yang tercatat sebesar 5,06 persen pada periode yang sama.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P, menyampaikan pertumbuhan ekonomi Kepri terutama ditopang sektor industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan juga didorong Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 24,08 persen secara tahunan. Salah satu pendorongnya adalah meningkatnya aktivitas investasi data center di Batam.

Di tengah kinerja tersebut, BI Kepri mendorong penguatan sumber pertumbuhan ekonomi baru agar pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada sektor-sektor utama.

“Ke depan, penguatan sumber pertumbuhan ekonomi baru perlu terus diakselerasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor-sektor utama dan memperluas dampak pertumbuhan yang inklusif bagi masyarakat,” kata Rony, Selasa (15/9/2026).

Salah satu strategi yang didorong adalah meningkatkan nilai tambah UMKM melalui penguatan produk unggulan daerah, promosi kuliner dan destinasi wisata serta peningkatan keterhubungan UMKM.

Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit perbankan di Kepri pada Juli 2026 mencapai Rp119,02 triliun atau tumbuh 36,16 persen (yoy). Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp103,46 triliun atau tumbuh 13,53 persen (yoy).

Fungsi intermediasi perbankan tetap kuat dengan risiko kredit yang terkendali. Hal tersebut tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 1,01 persen.

Sementara itu, penyaluran kredit UMKM tumbuh 10,05 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 1,60 persen. Rasio NPL kredit UMKM tercatat 2,54 persen.

Digitalisasi transaksi juga menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga Juli 2026, volume transaksi QRIS di Kepri mencapai 87,62 juta transaksi atau tumbuh 108,61 persen (yoy), dengan nominal transaksi Rp9,94 triliun atau meningkat 85,95 persen (yoy).

Jumlah merchant QRIS mencapai 483.299 merchant, dengan 95,83 persen di antaranya merupakan merchant UMKM.

“BI Kepri terus berkontribusi dalam mengakselerasi pengembangan UMKM melalui tiga pilar utama, yaitu korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan,” ujar Rony.

QRIS juga semakin mendukung transaksi wisatawan mancanegara melalui layanan QRIS cross border. Hingga Juli 2026, nominal transaksi oleh wisatawan asal Malaysia, Singapura, Thailand, Korea dan Tiongkok mencapai Rp169,95 miliar.

Nilai tersebut meningkat 1.866,41 persen secara year to date (ytd) dan 720,85 persen secara tahunan. Sementara volume transaksi mencapai 461.198 transaksi, meningkat 1.639,98 persen (ytd) dan 551,73 persen (yoy).

Dari sisi stabilitas harga, Kepri mencatat deflasi 0,17 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Secara kumulatif, inflasi mencapai 1,46 persen (ytd), sedangkan secara tahunan berada di level 3,87 persen (yoy), turun dari Juli 2026 yang sebesar 4,24 persen.

Meski menurun, perkembangan inflasi tersebut masih perlu dicermati, khususnya terkait harga pangan, transportasi serta potensi rambatan kenaikan harga energi dan komoditas.

BI Kepri terus memperkuat sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) provinsi maupun kabupaten/kota melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Secara keseluruhan tahun 2026, perekonomian Kepri diprakirakan tumbuh dalam kisaran 6,3–7,1 persen (yoy). Prospek tersebut tetap menghadapi sejumlah risiko, seperti ketidakpastian global, disrupsi rantai perdagangan, kebijakan perdagangan negara mitra serta volatilitas harga energi dan komoditas global.

“Melalui penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, TPID, perbankan, pelaku industri, pelaku UMKM, serta masyarakat, BI Kepri berkomitmen untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri yang semakin inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (dam)