“Kemarin pun itu masih relevan nasionalis dan religius. Karena kan, Pak Kiai Haji Ma’ruf Amin itu, mohon maaf, terakhir di injury time last minute itu, dan itu kalau wapres itu kata orang, sakunya bisa kaya Doraemon, bisa di ujung waktu, injury time, last minute,” ujarnya.
Menurut Pangi, langkah itu diambil Jokowi lantaran melihat situasi dibenturkannya demokrasi dengan Islam. Sehingga, Presiden Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai representasi dari agama.
“Karena kebutuhan keterbelahan publik soal nasionalis dan agama, Pancasila yang dibenturkan dengan Islam, demokrasi dengan Islam, nah ketemunya mungkin pilihan Presiden Jokowi kalau untuk menang ya harus ambil agama, karena representasi itu ya coba mereka ambil,” tuturnya.
