BATAM (HK) ─ SMP N 9 merupakan sekolah negeri yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Sagulung Kota Batam. Sekolah ini pun memiliki siswa yang mampu menorehkan prestasi membanggakan.
Kepala SMP Negeri 9 Batam, Eni Murtiasi mengungkapkan, bersyukur dan bangga lantaran siswanya banyak yang mampu menorehkan prestasi membanggakan.
Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 9 Batam, menorehkan prestasi dalam Lomba Tingkat Regu Pramuka Penggalang Lima (LT-V) Tahun 2023, hingga berhasil masuk dalam 10 terbaik tingkat Nasional.
Colourguard bagian dalam marching band yang memainkan equipment standart seperti flag (bendera), rifel (senapan), maupun siber (pedang).
Eni sangat bersyukur melihat banyak anak-anaknya menorehkan prestasi. Pada tahun 2017, SMP Negeri 9 ini pun berhasil meraih prestasi dalam perlombaan Drumband kategori Colour Guard dan meraih juara pertama tingkat nasional .
Dikatakan, Eni terus memperhatikan pelaksanaan pendidikan di SMP N 9 Batam, sehingga para guru dan siswa dapat melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan lebih maksimal.
Salah satunya dengan menambah pembangunan ruang kelas baru, perluasan ruang majelis guru, dan 1 unit ruang laboratorium sains, IPA.
“Disamping adanya kualitas pendidikan, tentunya kami bersama para guru di sekolah ini akan berjuang meningkatkan intelegensi dan moralitas siswa dalam bentuk pendidikan karakter,” ujarnya pada Sabtu (26/8/2023).
Pembangunan ruang kelas baru guna menimalisasi masalah penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang setiap tahunnya terus meningkat.
Diketahui jumlah siswa di SMP N 9 Batam, tahun ajaran baru 2023 sebanyak 582 siswa, jumlah itu naik dibandingkan pada tahun sebelumnya 440an siswa. Sedangkan untuk total siswa di SMP N 9 Batam adalah 1.300an siswa.
SMP Negeri 9 Batam adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri yang berdiri pada tahun 1993 di Sagulung, Kota Batam, yang dibangun dengan konstruksi yang sangat kokoh dan kuat.
Sedangkan untuk peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, serta peningkatan kualitas pendidikan, pemerintah memberikan bantuan dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK), yang merupakan kesungguhan perhatian Pemprov Kepri terhadap dunia pendidikan.
Namun, Eni menambahkan bahwa sekolah itu belum memilik gedung yang dikhususkan untuk perpustakaan.
“Saat ini ruang perpus belum ada, masih gabung dengan ruang kantor”.
Ia menilai perpustakaan harus terpisah dari aktivitas lain. Keberadaan gedung perpustakaan secara mutlak perlu ada, karena perpustakaan tidak mungkin digabungkan dengan unit-unit kerja yang lain di dalam satu ruangan. (CW03)
