BATAM (HK) – Lahan fasilitas umum (fasum) komplek perumahan Center Park Batam Center, Kota Batam disulap menjadi area bisnis atau perdagangan oleh ketua RW perumahan setempat, yakni Haran Pasaribu.
Lahan fasum tersebut dibangun sejumlah kios, kemudian disewakan kepada para pedagang, diantaranya ada yang jualan nasi padang, ayam penyet, martabak, gorengan hingga cukur ramput.
Perubahan fungsi fasum tersebut dilakukannya sendiri oleh RW dan tanpa adanya kesepakatan warga setempat. Sekarang sejumlah warga protes dan minta agar kios-kios yang ada di lahan fasum tersebut dibongkar, agar lahan itu dikembalikan kepada peruntukan semula.
Warga komplek perumahan Center Park Batam Center saat melakukan perteuan bersama RT dan RW. (Damri/Haluan Kepri)
Warga RT 02, RW 11, Komplek Center Park Batam Center, Bintang Pardosi mengatakan, kios-kios yang dibangun di fasum tersebut sudah lama dan selama ini belum ada yang berani protes secara langsung kepada ketua RW yang membangun kios itu.
Sekarang warga minta lahan fasum tersebut dikembalikan kepada peruntukan awalnya, sebab kios-kios itu dibangun hanya untuk kepentingan dan keuntungan RW saja (Haran Pasaribu).
“Keinginan warga saat ini simpel saja, jangan lagi ada orang yang jualan disana, sebab income untuk kas warga dengan yang didapatkan pak RW itu tidak imbang dan tidak ada transparasinya, yang diberikan untuk yang kas hanya Rp1,8 juta saja perbulan, sementra satu kios yang jualan nasi padang saja sewanya diminta Rp3 juta, belum lagi kios yang lain,” ujarnya, Rabu (16/5/2023) malam saat melakukan rapat dengan warga setempat.
Padahal katanya, saat pemilihan RW dulunya sudah ada perjanjian dan fakta integritas yang menyatakan dihadapan warga bahwa ketua RW tidak akan menggunakan fasilitas umum perumahan, baik itu yang bergerak maupun yang tidak bergerak untuk kepentingan pribadi.
“Kamk mempertanyakan atas dasar apa dia membangun kios di lahan fasum itu. Asannya RW itu adalah karena itu dulu lokasi hanya tempat sampah, alasan itu tidak bisa diterima warga, karena bagaimanapun itu adalah lahan fasum perumahan dan kios yang bangunan itu ilegal,” tegasnya.
Manalu, warga RT 02 RW 11 komplek Center Park Batam Centre mengatakan, akibat dari adanya pembangunan kios-kios di samping pintu masuk utama perumahan tersebut mengakibatkan sering terjadinya banjir, karena parit di cor dan diperkecil.
“Sementara itu adalah parit untuk menampung semua aliran air. Dulu paritnya besar, sekarang jadi kecil dan jika hujan datang sering banjir, karena debit air yang datang tidak bisa ditampung oleh parit yang sudah di cor dan diperkecil itu,” ujar Manalu.
Manalu berharap Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui dinas terkait untuk datang mengecek ke lokasi, karena masalah ini sudah berlangsung lama dan sampai sekarang belum ada petugas terkait turun ke lokasi.
“Masalah adanya banjir dan penyebabnya ini sudah sering kami sampaikan pada Kelurahan hingga Kecamatan, namun sampai sekarang belum ada juga tindak lanjutnya. Bangun kios-kios itu juga diatas parit dan itu tentu sudah sangat jelas menyalahi,” ungkapnya.
Ahok, warga RT 01 RW 11 menyampaikan, sebab selama ini belum ada warga yang berani komplen secara langsung, karena ada ancaman bagi warga yang protes tidak akan dilayani terkait administrasi.
“Seharusnya lahan tersebut adalah fasum untuk lahan hijau perumahan, dulunya disana ada pagar dan kemudian dia robohkan. Saya disini sudah lama, sejak tahun 2003. Kalau pak RW itu bilang yang jualan disana adalah warga disini juga, itu bohong, semuanya orang luar,” ucap Ahok.
Sementara itu, ketua RW 11 perumahan Center Park Batam Center, Haran Pasaribu mengatakan, bangunan kios itu dia bangun pada tahun 2003, waktu itu dia masih menjabat sebagai RT 01, RW 11 di perumahan tersebut.
Dimana dulunya lahan itu tidak terurus dan tempat sampah, bahkan dikuasai oleh sejumlah preman, maka dari itu dia membangun kios-kios itu dengan dana pribadinya.
“Itu ada 5 kios, air dan listriknya saya juga yang masukin, kita juga ada memberikan kontribusi kepada warga, supaya ada penambahan untuk pemasukan kas warga. Tidak mungkin dong air dan listriknya tanggungan saya, yang membagun saya dan itu usaha,” katanya. (dam)
