LINGGA (HK) – Permainan tradisional meriam bambu kini sudah jarang ditemui. Dulu meriam bambu, atau kerap disapa bedil-bedilan ini, menjadi sesuatu kegiatan rutin yang dilakukan remaja dan anak-anak di Bulan Ramadan. Tak terkecuali di Provinsi Kepri.
Namun kegiatan tersebut termasuk langka saat ini. Apalagi sesuai perkembangan zaman dan modernisasi, menjadikan kegiatan tradisi ini perlahan menghilang. Bahkan, Meriam Bambu kini turut tersingkir oleh petasan yang terbuat dari kertas, dan bubuk mesiu.
“Di Kabupaten Lingga, khususnya di Daik Lingga kini sudah jarang terdengar adanya suara dentuman meriam bambu atau bedil bambu,” ujar Amin, seorang warga Daik, Rabu (12/4).
Kini, imbuhnya, yang banyak dimainkan anak anak berupa petasan yang terbuat dari kertas, dan bubuk mesiu, yang banyak di jual di pasar pasat.
Sebagaimana diketahui, ada dua bahan bakar yang biasa dipakai. Karbit atau minyak tanah. Karbit dipotong dalam ukuran kecil, kemudian dicampur air dan dimasukkan ke dalam bedil.
“Apabila memakai minyak tanah. Minyak cukup dimasukkan kedalam bambu, kemudian bambu yang sudah dilubangi dan disulut dengan api,” kata Amin.
Jika memainkannya dengan minyak tanah, bedil tidak langsung berbunyi, serta butuh proses. “Lubang bedil harus ditiup, kemudian disulut api. Begitu lah hingga bagian bedil panas,” paparnya.
Setelah mulai panas, ujar Amin, bedil akan mulai mengeluarkan bunyi mulai dari perlahan hingga kuat. “Bedil biasanya dibuat dari bambu besar, dan berkulit tebal dan liat,” ujar Amin.
Pasalnya, terang Amin, terkait kekuatan ledak bedil kadang membuat bambu pecah. Ada pula yang menyebutkan, semakin besar bambu maka semakin kuat juga bunyi yang dihasilkan bedil tersebut.
“Cara membuatnya pun sederhana. Bambu dipotong beberapa ruas. Lalu, ruas bambu dilubangi, kecuali ruas terakhir, d mana ada lobang kecil untuk disulut api,” jelasnya.
Kata Amin, pada masa jayanya, bedil ataupun meriam bambu ini biasa dimainkan anak-anak dan remaja pada Bulan Ramadan. Lantas iapun menjadi tradisi. “Sayangnya, beberapa tahun terakhir ini, nyaris tak ada yang memainkan tradisi leluhur ini,” ungkap Amin.
Kini meriam bambu ditelan permainan yang dianggap lebih kekinian, ungkap Amin, jika tak dipertandingkan seperti tahun lalu yang pernah digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Lingga, maka permainan ini pun jarang dimainkan.
“Bahkan saat ini, sudah ada bedil jenis baru. Tapi bukan dari bambu, melainkan dari pipa paralon, dan ada juga dari kaleng bekas yang disambung menggunakan lakban. Dan kehadiran bedil modifikasi ini pun mulai menenggelamkan bedil bambu, yang dulunya kerap dimainkan. Terlebih dengan hadirnya petasan,” pungkasnya.
Diketahui, bedil bambu pun seolah tak dilirik lagi. Hanya segelintir anak-anak saja yang memainkannya. Suaranya pun sayup-sayup mulai hilang. Biasanya suara dentuman bedil bambu bersahut-sahutan menjelang waktu berbuka puasa, atau usai salat tarawih.(tbn).
Share.

Alamat Kantor :  Bengkong   Garama,   Kel. Tanjung Buntung,   Kec. Bengkong, Kota Batam,   Provinsi Kepulauan Riau 29432

Nomor Kontak :  0813-7419-3939 / 082172547747

Exit mobile version