NATUNA (HK) – Intraksi antara warga Pulau Panjang dan Pulau Kerdau, Kecamatan Pulau Panjang berlangsung secara tradisional sejak dahulu kala.
Pada sektor tertetentu akativitas kedua warga pulau yang berada di tengah- tengah laut lepas itu saling terkait satu dengan yang lainnya.
Seperti halanya pendidikan, ekonomi dan hubungan kekeluargaan mereka sangat terikat erat di antara warga kedua pulau.
Akan tetapi berbagai aktivitas warga itu, termasuk aktivitas dasar mereka terkendala dengan kondisi laut, ketersediaan infrastruktur dan sarana transportasi.
“Kami di Pulau Panjang dan Kerdau cara melakukan kegiatannya tergantung keadaan air laut,” kata Camat Pulau Panjang, Said Muhdar di Kantor Bupati Natuna, Selasa (5/5/2026) kemarin.
Dituturkannya, aktivitas warga seperti berdagang, bekerja dan sekolah dijalankan dengan cara menyesuaikan kondisi air laut.
Khusus pelajar, murid sekolah yang bepergian ke sekolah dengan cara seperti ini terdiri dari murid SD dan SMP.
“Jadi misal anak-anak pergi sekolah, kalau air lagi surut mereka jalan kaki menyeberangi laut tapi kalau air pasang mereka pakai pompong (perahu),” tutur Camat Said.
Diketahui bahwa jarak antara Pulau Panjang dan Pulau Kerdau sepanjang 2,2 kilometer dengan kejauhan air surut sepanjang sekitar 500 meter dengan kondisi air laut cukup dangkal yang praktis tidak bisa dilalui kendaraan laut saat air sedang surut.
Bahkan kapal-kapal warga hanya bisa menyeberang ke tepi di saat air laut sedang mengalami pasang sempurna saja.
“Itu pun kita harus turun dari kapal di laut karena tidak ada pelabuhan maupun pelantar tempat kapal bersandar,” ungkapnya.
Kendati demikian menurut Camat Said, kendala berat itu harus dihadapi warga untuk menunaikan kewajiban dan hajat hidupnya meskipun bahaya jelas adanya.
“Bagi kami di sana hal itu memang sudah biasa, tapi kami takutnya ada ikan lepuk yang sangat berbisa. Sempat itu mengenai anak-anak kita yang pergi sekolah, bahaya sekali mereka,” paparnya.
Dengan begitu ia berharap kondisi ini dapat perhatian khusus dari semua pihak, terutama sekali pemerintah supaya ada ketersediaan infrastruktur serta sarana yang memadai demi kemajuan, kemakmuran dan keamanan di wilayah kecamatannya.
“Kalaupun tidak bisa bangun jembatan, paling tidak ada pelantar agar warga tidak perlu turun di laut dari kapal. Mudah-mudahan lah segera ada solusinya,” harap Camat Said. (fat).
