LINGGA (HK) – Ratusan orang yang tergabung didalam kelompok pekerja tambang timah rakyat di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga, menggelar aksi damai dalam memperjuangkan nasib para pekerja tambang timah rakyat, di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga, yang ditangkap oleh Tim Polda Kepri, Senin (6/2/2023).
Gerakan Aksi damai, maupun aksi solidaritas tersebut, tampak memadati pelataran halaman Gedung Kampus Politeknik Lingga, yang berada di area implasmen Timah, Kota Dabo Singkep dengan membawa spanduk dan berorasi.
Aksi yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB ini, mereka mendesak pemerintah daerah Kabupaten Lingga dan Provinsi Kepulauan Riau, untuk memberikan kepastian hukum bagi mereka didalam melakukan pekerjaan tambang timah rakyat, yang selama ini mereka tekuni.
Munculnya aksi damai tersebut berawal dari peristiwa dari penangkapan terhadap 5 orang pekerja tambang timah rakyat oleh Tim Polda Kepri pada senin (6/2/2023) yang lalu, dan saat ini ke 5 orang tersebut masih diamankan, di Polda Kepri.
Dengan peristiwa tertangkapnya 5 pekerja tambang timah rakyat itu, muncullah satu sikap yang lahir dari ratusan pekerja tambang pulau dan Singkep dan Barat, didukung penuh oleh sejumlah aktivis organisasi masa dan masyarakat di Kabupaten Lingga untuk mendesak Bupati Lingga dan Gubernur Kepulauan Riau memperjuangkan agar pekerjaan tambang timah rakyat ini menjadi sah dimata hukum .
Aktifis Kabupaten Lingga, Zuhardi mengatakan, gerakan orasi yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB itu, mengatasnamakan dari Aliansi Masyarakat Kabupaten Lingga, dan ia bertindak selaku Koordinator aksi, bersama Harmadi Halim, Marbiska, Deni Gunawan, dan Ramlan Djamri selaku Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Lingga.
di lokasi, mereka menyampaikan tuntutan secara bergantian menyampaikan orasinya, diawali dari Zuhardi (Juai), dan dengan tegas Juai mendesak kepada Bupati Lingga, serta Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) untuk cepat membuat kebijakan.
Juai menerangkan bahwa, masyarakat sudah diambang kemiskinan yang sangat parah, dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang menjamin saat ini, sama saja pemimpin negeri ini mulai membunuh masyarakat secara perlahan.
“Air mata masyarakat sudah kering, bibir mereka tidak mampu lagi berkata-kata, mereka hanya bisa menunggu dengan satu pertanyaan, sampai kapan pemimpin negeri ini memberikan mereka pekerjaan, sampai kapan penderitaan rakyat ini berakhir, dan kapan kami bisa tersenyum dalam menafkahi keluarga kami,” kias Juai
Ketua Plt. MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Lingga, Ramlan Djamri, dengan Gayanya sebagai seorang pimpinan Organisasi Pemuda berlambang Garuda itu, mengungkapkan, “Hari ini kami mengumandangkan jeritan hati kami kepada Bapak Bupati dan Bapak Gubernur yang terhormat.
“Bapak selaku pemimpin yang kami banggakan, kami menaruhkan harapan dipundak Bapak-Bapak. Maka. bantulah kami, perjuangkanlah nasib kami, anak-anak kami menangis menunggu sesuap nasi dan seteguk air. Sementara kami ayahnya tidak memiliki pekerjaan sama sekali, pada hari ini juga, kami menyapa para wakil-wakil kami di gedung rakyat disana, Hari ini kami menuntut dan kami ingin melihat, di mana wakil rakyat negeri ini, pada kemana semuanya,” kata Ramlan Djamari.
Lalu, katanya, kenapa semua bersembunyi, suara kami tolong dengarkan, nasib kami tolong diperjuangkan, jangan hanya bisa diam, saudara-saudara kami tunjuk menjadi wakil kami di gedung rakyat itu, bukan hanya untuk jadi penonton atas penderitaan rakyat ini.
“Hadirlah kalian kesini, saksikan penderitaan rakyat hari ini dan dengarlah jeritan hati rakyat hari ini. Mana batang hidung kalian tidak kelihatan hari ini,” kecam Ketua Pemuda Pancasila, Geram.
Keinginan tersebut, baik itu secara lisan maupun secara tertulis sudah disampaikan kepada pihak-pihak yang berkompeten, namun peserta aksi ada terselip kekecewaan yang mendalam, sampai kegiatan aksi berakhir.
Bahkan bupati yang ditunggu tidak kunjung hadir, yang hadir hanya utusan beliau, yaitu Bapak Zainal Abidin selaku Asisten II Kantor Bupati Lingga, dengan menyampaikan sedikit pesan, bahwa Bapak Bupati tidak dapat hadir berhubung sedang ada kegiatan yang tak dapat ditinggalkan.
Selain menuntut Legalitas tambang rakyat yang sangat diimpikan masyarakat, didalam aksi yang berlangsung juga meminta Kepada Bupati Lingga dan Juga Gubernur Kepri, supaya para penambang Timah yang di amankan Polda Kepri Segera di Bebaskan.
“Mereka bekerja hanya untuk kebutuhan hidup sehari hari, dan tidak lebih dari itu,” ujar Harmadi.
Kapolres Lingga, AKBP Fadli Agus, SIK, MH, disela-sela acara aksi hari ini, ada kejadian yang sangat menyentuh perasaan peserta aksi, tanpa disadari, bersempena sedang menyalami ibu-ibu istri para penambang timah rakyat yang terjaring di dalam operasi Tim Polda Kepri beberapa hari yang lalu, terlihat disudut mata Bapak Kapolres Lingga, mengalir air bening tanda bentuk kesedihan yang begitu mendalam, dan sayub-sayub media ini mendengar sekilas bahasa AKBP Fadli Agus selaku Kapolres Lingga, dan sambil menyeka matanya beliau berucap dengan nada berbisik.
“Yang sabar ya bu, demi hukum kami harus bekerja profesional. Dan doakan bapak anak-anak sehat disana, ibu yang sabar ya, kita berdoa saja. Insya Allah, Allah SWT tetap memberi perlindungan kepada kita semua,” nasehat Kapolres kepada para ibu-ibu. (tbn)
