NATUNA (HK) – Kabupaten Natuna sudah setahun lebih mengalami krisis pendapatan dan belanja (fiskal). Keadaan ini membuat daerah yang berada ujung utara negara itu tidak mampu membangun apa-apa.
Krisis ini terjadi akibat adanya kebijakan Pemerintah Republik Indonesia yang mengurangi jumlah alokasi Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas (Migas) daerah. Dan adanya kebijakan penundaan penyaluran dana kurang bayar DBH ke daerah dalam batas waktu yang tidak ditentukan.
Selain itu, Natuna juga murni bergantung pada dana bagi hasil yang dikurangi dan ditunda-tunda penyalurannya oleh Pemerintah Republik Indonesia itu. Hal ini karena sektor swastanya belum dapat diandalkan untuk menopang stabilitas fiskal.
Namun begitu, Bupati Natuna, Cen Sui Lan tetap terlihat tangguh dalam menghadapi kenyataan berat akibat dikurangi dan ditundanya hak Kabupten Natuna tersebut.
“Itu kebijakan nasional yang harus kita terima semua. Jadi apapun keadaanya kita harus berani hadapi dengan teguh dan semangat. Yang lain boleh saja angkat bendera putih atas keadaan, tapi saya tidak mau menyerah,” ucapnya dengan nada santai pada acara Pengukuhan Kepengurusan FKUB Periode 2025-2030 di Kantornya, Selasa (24/5/2026) lalu.
Ia menegaskan, nasib kekurangan dan kelebihan itu berlaku untuk semua orang, termasuk Kabupaten Natuna karena itu aksioma alam yang ditetapkan Tuhan.
“Kita harus sadari itu supaya kita tetap lapang dada dan tidak mudah menyerah. Jadi kita semua harus tetap semangat, terutama sekali anak-anak muda kita ini,” ungkapnya menyemangati.
Menurut Bupati Cen, masih ada cara lain yang bisa ditempuh untuk mempertahankan Natuna tetap eksis meskipun pendapatan utamanya sedang dalam kondisi krisis dan tanpa kepastian.
“Maka saya tetap berjuang dan berupaya agar pembangunan pusat, terutama sekali pembangunan fisik itu banyak di datangkan ke Natuna. Agar masyarakat dan daerah dapat mengambil kemanfaatan dari pembangunan itu secara sah,” imbuhnya.
Ia mencontohkan, pembangunan Pasar Ikan (PI) Ranai yang sedang berjalan, pembangunan Sekolah Rakyat yang dalam persiapan pembangunan dan proyek-proyek lain yang sekiranya dapat dijalankan di Natuna.
“Di situ masyarakat bisa kerja, jual batu, jual pasir dan material lainnya. Itu cara-cara yang mesti kita tempuh untuk dapat bertahan,” jelasnya.
Selain dengan cara itu, Pemerintah Kabupaten Natuna juga tetap bertahan dengan cara menghidupkan mode penghematan yang sangat ketat dan merata di semua bidang mulai dari teransportasi, tunjangan hingga ke bidang konsumsi.
Ia kembali mencontohkan, Pemerintah Kabupaten Natuna tengah menyiapkan kebijakan untuk mangatur transportasi pemerintah antar pulau dan sudah menerapkan efisiensi mendalam di semua bidang.
“Jadi kita kalau ke pulau pergi pakai pompong saja yang lebih murah. Kita harus irit-irit. Itu semua kita lakukan agar kita tetap dapat beli obat, menjalankan pendidikan, bayar utang dan hal-hal dasar lainnya. Eh, tapi saya tidak curhat ya, tapi memang begitu keadaanya. Tetap semangat, jangan menyerah,” tutupnya dengan senyum lebar dan disambut tawa hadirin. (fat).
