NATUNA (HK) – Gaharu di Natuna merupakan tumbuhan hutan yang sering dimanfaatkan warga sebagai salah satu sumber pendapatan andalan.
Diakhir dan permulaan tahun, warga Natuna biasanya ramai-ramai masuk hutan untuk mencari gaharu. Pekerjaan ini dilaksanakana dengan cara perorangan dan berkelompok.
Kegiatan mencari gaharu di Natuna merupakan pekerjaan nenek moyang yang diwariskan secara turun – temurun dan masih dijaga oleh masyarakat Kabupaten Natuna.
Bahkan hingga saat ini warga tampak semakin terdorong untuk melestarikan aktifitas ini sebab gaharu bagi mereka sudah terbukti mengandung nilai ekonomi yang tinggi dan juga dianggap sebagai budaya leluhur.
Selain itu, pasar inti kayu yang bernilai tinggi tersebut juga sangat terbuka di Natuna, sehingga kegiatan jual beli dan distribusinya selalu berjalan lancar.
“Ini pekerjaan warisan nenek moyang, bang. Lagian gaharu ini juga barang mahal, maka orang tetap mencarinya walaupun jarang-jarang juga mereka dapat,” tutur Rahman, warga Ranai, di Ranai, Rabu (19/11/2025).
Pria yang kerap keluar – masuk hutan mencari gaharu itu menjelaskan, harga gaharu yang kelas super mencapai harga ratusan juta rupiah perkilo. Sedangkan yang non super mencapai puluhan juta perkilo.
“Tapi ini harga lokal di Natuna, kalau harga di luar itu bisa mencapai miliaran rupiah sekilo yang super,” jelasnya.
Akan tetapi menurutnya, sejauh ini jarang sekali warga yang berhasil mendapatkan 1 kilo gaharu setiap kali mereka mencari ke hutan. Biasanya mereka mendapatkan gaharu kurang dari satu kilo gram.
“Paling dapat satu atau dua garis, pergaris itu seukuran satu jari orang dewasa yang beratnya kurang dari satu ons. Tapi itu udah lumayan betul, sebab kalau dapat satu jari yang super itu sudah belasan juta harganya,” papar Rahman.
Sehingga saking berharganya gaharu itu, diketahui bahwa belakangan ini warga Natuna bukan hanya mengeksploitasi tumbuhan itu dengan cara mencarinya ke hutan, melainkan mereka juga ramai-ramai membudidayakannya di lahan mereka masing-masing.
Kegiatan budidaya ini selain memiliki daya tarik harga yang juga menggiurkan. Budiadaya jadi banyak diminati warga karena adanya teknik rekayasa gaharu yang mudah dilakukan warga untuk mempercepat munculnya inti gaharu.
“Kalau kita tanam sendiri itu kita bisa jual pokok juga. Satu pokok yang usianya tiga tahunan harganya bisa tiga jutaan. Kalau kita ada tanam seratus pokok, itu sudah lumayan makmur kita,” imbuh Rahman.
Oleh karena itu ia mengaku, aktifitasnya saat ini tidak hanya mencari gaharu ke hutan, tapi juga membudidayakannya di kebun dan di pekarangan rumahnya.
“Bibitnya kita bisa ambil dari hutan atau bisa juga beli. Kita di sini ada komunitas gaharu, kebetulan komunitas itu yang jual bibit. Kami ada beberapa pokok di kebun, mudah-mudahan perkembangannya bagus. Kalau itu bisa lulus sampai tiga tahun, lumayan juga duitnya,” ujar Rahman. (fat).

