BATAM (HK) – Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat pertumbuhan ekonomi Kepri sepanjang 2025 sebesar 6,94 persen, tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Angka tersebut juga melampaui rata-rata nasional sebesar 5,8 persen dan pertumbuhan ekonomi Sumatera sebesar 4,81 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Rony Widijarto, mengatakan capaian tersebut menunjukkan kinerja ekonomi daerah yang solid di tengah dinamika global.
“Pertumbuhan 6,94 persen merupakan yang tertinggi dalam satu dekade terakhir dan berada jauh di atas nasional,” ujar Rony dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Batam, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, peran Batam sangat dominan dalam struktur ekonomi Kepri karena kontribusinya yang besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi tersebut.
Meski demikian, Bank Indonesia mencermati tantangan pada sisi konsumsi rumah tangga. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Kepri tumbuh 7,89 persen, namun konsumsi rumah tangga hanya meningkat 4,17 persen.
“Secara nasional, pertumbuhan ekonomi umumnya bergerak seiring dengan konsumsi masyarakat. Di Kepri, ketika pertumbuhan cukup akseleratif, konsumsi belum sepenuhnya mengikuti. Ini menjadi ruang yang perlu didorong bersama,” kata Rony.
Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi Kepri dengan kontribusi lebih dari 40 persen terhadap PDRB. Sementara itu, sektor pertambangan mulai menunjukkan pemulihan signifikan sejak triwulan II 2025 setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Peningkatan produksi dari Blok Migas Forel menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi 2025.
Namun, Bank Indonesia mengingatkan sifat industri pertambangan yang mengalami penurunan alamiah (natural declining) berpotensi menjadi tantangan pada 2026 apabila tidak diimbangi peningkatan kapasitas produksi baru.
“Pada 2025 sektor tambang memberikan sumbangan signifikan karena adanya peningkatan produksi. Namun pada 2026, jika kapasitas tidak bertambah, maka pertumbuhan secara tahunan akan berbeda,” ujarnya.
Rony menekankan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya perlu tinggi, tetapi juga inklusif dan merata. Struktur industri Kepri yang berorientasi ekspor dan didominasi investor asing membuat penguatan pelaku usaha lokal menjadi krusial.
“Penting bagi UMKM masuk dalam rantai nilai industri utama. Jika mampu menjadi industri pendukung, hal itu akan menciptakan pemerataan pendapatan dan mendorong konsumsi,” ungkapnya.
Untuk 2026 lanjutnya, Bank Indonesia Kepri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 6,38–7,18 persen. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen.
“Pertumbuhan dan inflasi merupakan satu kesatuan. Dengan karakteristik Kepri yang tumbuh relatif lebih tinggi dibandingkan provinsi lain, inflasi cenderung bergerak di titik tengah hingga batas atas sasaran, namun tetap terkendali,” imbuhnya. (dam)

