PASAMAN BARAT (HK) – Pelayanan di UPT Puskesmas Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) buruk dan hal ini banyak dikeluhkan oleh masyarakat yang datang berobat kesana.
Bahkan yang lebih parahnya lagi, saat pasien membutuhkan pertolongan dokter yang bertugas tidak ada di lokasi, sehingga mengakibatkan salah seorang pasien warga SKB, Jorong Langgam, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat meninggal dunia.
Damri selaku anak dari almarhum Leloani mengatakan, pihaknya sangat menyangkan dan kecewa atas buruknya pelayanan di Puskesmas Kinali tersebut.
Dimana dokter yang bertugas pada malam itu yang seharusnya berada di Puskesmas tersebut malah tidur nyenyak di salah satu ruangan.
Sehingga orang tuanya (pasien) yang dirawat di Puskesmas Kinali itu tidak mendapatkan pertolongan dan meninggal dunia pada Jumat tanggal 23 Juni 2023 lalu.
Sebelumnya kata Damri, pada Rabu tanggal 21 Juni 2023, orang tua dia didampingi keluarga datang berobat ke UGD Puskesmas Kinali tersebut.
Saat itu salah seorang petugas mengatakan bahwa pasien tidak bisa berobat dengan memakai BPJS Kesehatan, karena dengan alasan BPJS nya mati.
“Jadi pas datang ke UGD petugas menanyakan apakah ibu kami (pasien) pakai BPJS Kesehatan, keluarga menjawab iya, namun kata petugas BPJS nya mati dan untuk berobat harus jalur umum dengan membayar Rp 25 ribu, setelah diperiksa dan diberi obat ibu kami pulang,” kata Damri kepada awak media, Sabtu 8 Juli 2023 di Kinali.
Kemudian kata Damri pada esok harinya, Kamis 22 Juni 2023, orang tuanya tersebut kembali datang berobat dengan didampingi oleh kelurga, karena sakitnya kambuh lagi dan langsung rawat inap.
“Jadi datang yang kedua kali ini bisa pakai BPJS, karena BPJS nya setelah di cek petugas yang berberda dari hari sebelumnya, BPJS aktif. Bahkan petugas ini kaget atas penjelasan dari keluarga yang mengeluhkan sebelumnya BPJS dibilang mati dan harus membayar saat berobat,” ujar pria yang juga berpropesi sebagai wartawan itu.
Setelah itu jelasnya, pada Jumat, 23 Juni 2023 dini hari sekira pukul 02.00 kedaannya orang tuanya tersebut makin memburuk dan infusnya lepas dan mengeluarkan darah, sehingga membutuhkan pertolongan.
Namun saat itu dokter yang bertugas tidak ada, perawat yang piket pada malam itu mengaku telah menghubungi dokter yang bertugas atau dokter yang piket malam itu, serta juga para dokter lainnya yang bertugas disana, tapi tidak ada yang mengangkat telfon.
Waktu itu keadaan makin panik dan orang tuanya sudah diam tak sadarkan diri, perawat menyarankan agar keluarga yang ada di lokasi untuk langsung mengedor dan membangunkan dokter (dr. Riski) yang tidur di salah satu ruangan yang ada di Puskesmas tersebut.
“Jadi karena belum ada juga dokter yang mengangkat telfon dan respon, perawat malah menawarkan pada keluarga agar ibu kami yang sudah diam dan tak berdaya itu untuk dirujuk. Ini kan lucu, ibu kami yang sudah diam saja dan tidak bernafas lagi, malah mau dia rujuk, seoalah-olah mau lepas dari tanggungjawab dari masalah dan kasus ini,” ujarnya.
Lanjutnya, keluarga datang membangunkan dan mengedor ruangan tempat dr. Riski yang tidur itu berulang kali, namun tak kunjung bangun, setelah sekitar lebih setengah jam lamanya dibangunkan, barulah dr Riski itu bangun dan datang mengecek keaadaan pasien.
“Setelah digedor-gedor ruangan tempat tidurnya dr. Riski tersebut sekitar setengah jam lebih, baru dia keluar dan menglihat pasien, setelah dia cek, kemudian dia mengatakan “nenek tidak ada lagi, setelah itu dia langsung pergi. Saat itu keluarga menannya dr. Riski kenapa baru datang pak, kemana saja dari tadi, namun tidak ada jawab apa-apa,” jelasnya.
Atas kelalaian dari pelayanan petugas tersebut, Damri sudah konfirmasi kepada kepala UPT Puskesmas Kinali, dr. Widodo. Kepala Puskesmas tersebut mengaku belum mengetahui masalah ini, karena dia tidak ada mendapatkan laporan dari bawahannya.
“Kemaren saya sudah menghubungi pak dr. Widodo sekalu kepala Puskesmasnya, dia bilang lagi keluar daerah, dia hanya berjanji nanti akan dia tanya langsung petugas waktu kejadian tersebut, kenapa masalah ini bisa terjadi dan kenapa malam itu perawat yang bertugas tidak menghubunginya,” imbuhnya.
Terkait masalah ini, Damri bersama keluarganya meminta pertanggungjawaban pihak UPT Puskesmas tersebut, dalam hal ini semua petugas pada kejadian itu dan juga kepala Puskesmasnya, yakni dr. Widodo.
Dia minta dokter dan kepala Puskesmas Kinali tersebut agar diberikan sanksi sesuai aturan yang ada oleh Bupati Pasaman Barat, dalam hal ini melalui Dinas Kesehatan Pasamana Barat, agar kejadian serupa terulang kembali.
“Cukup orang tua kami yang jadi korban terakhir atas kelalai kinerja mereka. Keluhan buruknya pelayanan disana sepertinya ini bukan yang pertama kalinya, sangat banyak informasi kami dapatkan dari masyarakat yang megeluhkan buruknya pelayanan disana,” imbuhnya.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasaman Barat, Hajran Huda mengatakan, masalah ini akan menjadi atensinya.
Setelah dia mendapatkan laporan dari keluarga korban, dia mendatangi langsung UPT Puskesmas Kinali tersebut serta mengumpulkan semua petugas dan juga dua dokter disana pada Sabtu, 8 Juli 2023 pagi.
“Saya sedang mengumpulkan data dan fakta-fakta dari masalah ini, kalau nanti semuanya terbukti tentu akan ada saksinya. Terkait pungutan uang pendaftaran itu nanti saya minta juga untuk di kembalikan. Saya telah perintahkan mereka untuk datang ke rumah duka untuk meminta maaf kepada keluarga atas kejadian ini,” ucap Hajra. (r)
