Faktanya, para kelas menengah itu membutuhkan tenaga kerja murah sebagai pembantu, pembersih, tukang kebun, sopir, dan berbagai pekerjaan lainnya yang hanya bisa dilakukan warga kelas bawah. Karena Brasilia tidak didesain untuk mengakomodasi orang-orang itu, para pekerja murah tersebut tinggal di luar kota. Seiring waktu, perumahan kumuh tempat para pekerja itu tinggal tumbuh satu persatu dan akhirnya mengelilingi Brasilia. Kemiskinan dan ketimpangan sosial yang tadinya ingin dihindari Kubitschek justru mengikuti ke mana ibu kota pergi.
Bagaimana dengan ketimpangan wilayah yang ingin dikurangi dengan pembangunan ibu kota Brasilia di pedalaman? Enam dasawarsa sejak Brasilia jadi ibu kota, pertumbuhan ekonomi di Brasil mengalami pemerataan, tetapi tidak signifikan. Hasil studi yang dilakukan ekonom muda Davi Bhering Gusmao menunjukkan pertumbuhan ekonomi Brasil masih tetap dikuasai negara bagian pesisir di tenggara. Bahkan, 60% PDB Brasil disumbang Amazonas, Rio de Janeiro, dan Sao Paulo. Sementara itu, negara bagian pedalaman di utara dan selatan tetap terpinggirkan.





