Karena itu, pemerintahan Kubitschek yakin bahwa memindahkan ibu kota ke daerah pedalaman akan memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih merata, khususnya di negara bagian dalam yang selama ini terpinggirkan. Keyakinan itu sangat mirip dengan argumen pemerintahan Jokowi bahwa pembangunan Nusantara wajib dilakukan untuk mengurangi dominasi Jawa dalam pertumbuhan ekonomi. Harapannya, Nusantara akan memberi efek yang mana wilayah luar Jawa akan mendapat kesempatan sama dalam pembangunan.
Ketiga, desain Brasilia ialah hasil kolaborasi dua arsitek Brasil yang terkenal, yakni Oscar Niemeyer dan Lucio Costa. Ibu kota itu didesain sebagai ‘sebuah kota masa depan’ yang mana impian modernitas, teknologi, dan keteraturan sosial terwujud dalam materialitas ruang urban. Dalam visi Kubitschek, ibu kota Brasilia merupakan pintu gerbang bagi bangsa Brasil menuju ke era pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sama seperti Kubitschek, Jokowi pun membayangkan Nusantara sebagai akselerator transformasi ekonomi RI menuju negara berpenghasilan tinggi. Mengikuti cara berpikir pemerintahan Kubitschek, pemerintahan Jokowi tanpa malu-malu menunjukkan sikap doyan terhadap tekno-utopianisme, suatu keyakinan bahwa teknologi adalah penentu masa depan dan perkembangan teknologi merupakan jalan menuju kemakmuran.

