Ada tiga kemiripan yang penting dicatat antara Brasilia dan pembangunan IKN Nusantara yang sedang dikejar pemerintahan Jokowi saat ini. Pertama, pembangunan ibu kota Brasilia dicanangkan Juscelino Kubitschek yang menjadi Presiden Brasil dari 1956-1961. Sama seperti Presiden Jokowi, Kubitschek merupakan politikus yang mengawali kariernya sebagai Wali Kota Belo Horizonte. Sama seperti Jokowi, Kubitschek ialah Presiden yang memberi prioritas pada pembangunan infrastruktur dan sarana publik.
Jika Jokowi merupakan kader PDIP, Kubitschek ialah kader Partai Demokratik Sosial (PSD). Sekali lagi, sama seperti Jokowi yang ingin memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Nusantara sebelum dia menyelesaikan masa jabatannya, Kubitschek memindahkan ibu kota Brasil dari Rio de Jeneiro ke Brasilia setahun sebelum dia lengser. Artinya, seluruh proses perencanaan dan pembangunan kedua ibu kota itu dilakukan dengan tergesa-gesa.
Kedua, pembangunan Brasilia didasari slogan Integracao por interiorizacao yang artinya penyatuan tanah air melalui pemindahan pusat kekuasaan ke pedalaman. Brasil merupakan negara kontinental dengan luas 4,5 kali lebih besar dari Indonesia. Selama ratusan tahun, Brasil mengalami ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara wilayah pesisir dan wilayah pedalaman. Aktivitas industri dan ekonomi modern terkonsentrasi di beberapa negara bagian pesisir, antara lain Sau Paulo, Rio de Jenairo, dan Rio Grande do Sul.

