BATAM (HK) – Mantan Kepala Sekolah SMAN 21 Adi Saputra meluruskan isu di medsos soal antena provider di gedung bangunan SMAN 21 Batam yang sudah dibangun 5 tahun.
“Yang benar radio antena provider itu dipasang sekitar 2 tahun. Persisnya dipasang sejak musim Covid-19 tahun 2020 lalu. Bukan 5 tahun,” ujar Adi Saputra di Bengkong.
Lebih lanjut Adi Saputra MPD yang kini menjabat Kepsek SMAN 20 ini menjelaskan kronologis awal pemasangan antena radio provider.
Menurut Adi, SMAN 21 terbilang sekolah baru dan bangunan baru saat itu, dan semua jaringan, intalasi seperti listrik, air, fiber optik internet tidak tersedia.
Dan apabila membutuhkan pihak sekolah terpaksa membuat sendiri instalasi dan jaringan fiber optic.
Pihak sekolah pernah meminta PT Telkom untuk menyediakan internet namun mereka menolak membangun sendiri instalasi fiber optik.
“Dulu awalnya karena tidak jaringan intalasi listrik, fiber optik, jadi dipasang di SDN 011 dan dipancarkan ke SMAN21,” ujarnya.
“Waktu itu saat UNBK internet kami diperoleh dari pancaran internet dari SDN 011 ke SMAN 21 karena lokasi SMAN 21 berada diketinggian di atas bukit,” tambahnya.
Sebagai sekolah baru, Lanjut Adi Saputra yang didampingi Wakasek Kesiswaan SMAN 21 Asrori, SMAN 21 memiliki visi Smart School sangat membutuhkan internet untuk menunjang proses pembelajaran yang full daring.
Lalu datang tawaran dari penyedia jasa internet provider dan waktunya bersamaan dengan musim Covid-19 lalu.
“Kita ada MOU kerjasamanya dan di sebelumnya sudah konsultasi dengan dinas pendidikan Kepri. Dan direspon positif karena pihak sekolah tidak membayar apalagi menerima uang,” tambah Adi Saputra MPd seraya mengakui dirinya tidak paham persis regulasi teknis tentang internet.
Lalu ada pihak penyedia jasa internet atau provider menawarkan kerjasama barter yaitu pihak sekolah mendapatkan semua layanan termasuk jaringan instalasi dibuat sendiri oleh provider dan pihak sekolah mendapatkan acces point dari provider.
“Kita terima beres dan free. Dan kompensasinya kita mendapatkan bandwidth berkapasitas 30 Mbps. Dan untuk kebutuhan tertentu kita mendapatkan free bandwidth ukuran bebas sesuai kebutuhan (los),” ujar Wakasek Kesiswaan SMAN 21 Asrori S.Kom.
Mantan Kepsek SMAN 21 yang kini menjabat SMAN 20 Adi Saputra menambahkan sesuai dengan visi misi SMAN 21 yaitu smart school yaitu sekolah cerdas dan sangat membutuhkan internet.
“Apalagi sekolah full daring karena musim Covid-19 saat itu dan zamannya juga sudah era digital,. Jadi internet sangat dibutuhkan,” tambahnya.
Beberapa hari kemarin antena radio tersebut sudah dirobohkan dan hal ini tentu patut disayangkan.
Pasalnya isu publik yang coba dibangun adalah tower atau menara tinggi besar padahal faktanya triangle.
Warga Batam Sofian menilai opini publik yang coba dibangun menara tinggi besar dan dengan jasa fee sewa tempat ratusan juta rupiah sangat disayangkan.
“Padahal faktanya kan kecil dan sekarang sudah dibongkar. Kan sayang, kasihan anak anak sekolahnya terganggu,” pungkasnya. (evilius)
