BATAM (HK) — Konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Di wilayah perbatasan seperti Batam, dampak tersebut dikhawatirkan dapat merembet ke sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
Sebagai kota border di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Batam memiliki posisi strategis dalam industri pariwisata nasional. Kota yang dijuluki “Singapura van Riouwarchipel” itu selama ini mengandalkan kunjungan wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura dan Malaysia, sebagai penyumbang devisa daerah.
Praktisi pariwisata Kepri, Surya Wijaya, mengatakan gejolak global akibat perang berpotensi memicu dampak tidak langsung terhadap sektor pariwisata di kawasan tersebut.
“Perang Iran yang sudah berlangsung perlahan mulai memberikan efek kepada negara kita Indonesia. Tentu yang paling utama adalah ekonomi kita perlahan mulai merasakan dampaknya,” kata Surya, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, selama bulan Ramadan penurunan kunjungan wisatawan mancanegara sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun.
Wisatawan dari Singapura maupun Malaysia umumnya memang berkurang karena aktivitas masyarakat di kedua negara tersebut lebih banyak terfokus pada ibadah dan persiapan Hari Raya.
Namun di balik kondisi yang terlihat normal itu, Surya menilai ada sinyal peringatan yang perlu diwaspadai oleh pelaku industri pariwisata dan pemerintah daerah.
“Sebenarnya ada satu warning yang tidak kita sadari. Dampak perang Iran mengirimkan pesan berantai yang harus kita waspadai,” ujarnya.
Sinyal dari Malaysia
Surya mengungkapkan, tanda-tanda dampak ekonomi mulai terlihat saat dirinya melakukan kunjungan kerja ke Johor, Malaysia, beberapa waktu lalu untuk bertemu mitra industri pariwisata.
Ia melihat suasana yang tidak biasa di sejumlah bazar Ramadan yang biasanya ramai oleh masyarakat yang berburu takjil, pakaian Lebaran, hingga kebutuhan mudik.
“Selama ini bazar Ramadan di Malaysia selalu menjadi magnet. Tapi kali ini saya melihat pemandangan yang tidak biasa. Aktivitas belanja masyarakat terlihat lebih berhati-hati,” kata Surya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah Malaysia telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk lebih berhemat dalam berbelanja karena potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat dampak konflik global.
“Kerajaan Malaysia memberikan maklumat kepada rakyatnya untuk segera berhemat dan berbelanja seperlunya. Dampak perang membuat negara mereka akan segera mengumumkan kenaikan harga BBM,” jelasnya.
Menurut Surya, kebijakan tersebut tentu berpotensi mempengaruhi arus wisatawan Malaysia yang selama ini menjadi salah satu pasar utama bagi Batam dan Kepri.
Target Wisman 2026
Di sisi lain, pemerintah daerah sebelumnya mencatat peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian tersebut mendorong optimisme dengan target kunjungan yang cukup tinggi pada 2026.
Batam menargetkan 1,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara, sementara Provinsi Kepulauan Riau menargetkan 2,7 juta kunjungan wisman pada tahun yang sama.
Namun Surya mengingatkan bahwa kondisi global saat ini bisa menjadi tantangan bagi pencapaian target tersebut.
“Kondisi ini tentu baru bisa benar-benar kita rasakan setelah Ramadan. Banyak program sudah disiapkan industri, pelaku pariwisata, dan pemerintah untuk menarik wisatawan,” katanya.
Dampak Mulai Terasa
Menurut Surya, salah satu dampak langsung yang mulai terlihat adalah kenaikan biaya transportasi laut akibat lonjakan harga minyak dunia.
Operator kapal feri rute Singapura–Batam, kata dia, telah mengumumkan penambahan biaya layanan mulai 12 Maret.
“Calon penumpang dikenakan tambahan biaya sekitar 6,5 dolar Singapura untuk keberangkatan dari Singapura dan Rp65.000 untuk keberangkatan dari Batam,” jelas Surya.
Ia menambahkan bahwa kemungkinan operator feri tujuan Malaysia juga akan melakukan penyesuaian tarif masih perlu ditunggu.
Jaga Ekosistem Pariwisata
Menghadapi situasi tersebut, Surya mengingatkan semua pihak agar fokus menjaga ekosistem pariwisata daerah agar tetap stabil dan kompetitif. “Tolong dijaga ekosistem pariwisata kita,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa ekosistem pariwisata mencakup integrasi berbagai komponen seperti atraksi wisata, akomodasi, transportasi, layanan pendukung, serta keterlibatan masyarakat lokal yang saling terhubung.
“Ekosistem pariwisata adalah integrasi komponen atraksi, akomodasi, transportasi, layanan pendukung, dan masyarakat lokal yang saling berinteraksi, didukung pemerintah dan swasta untuk menciptakan pengalaman wisata berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Surya.
Namun menurutnya, beberapa unsur dalam ekosistem tersebut saat ini belum berjalan optimal.
“Saya melihat unsur-unsur itu sedang tidak berjalan baik. Ibarat rantai makanan, ada yang terputus dan tergusur karena kurang pengawasan dari pemerintah,” katanya.
Dia juga menyoroti implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Pariwisata yang menurutnya membuka ruang kebebasan berusaha dan bekerja yang lebih luas, namun tetap memerlukan pengawasan agar ekosistem industri tetap sehat.
“Yang terpenting sekarang adalah memastikan ekosistem pariwisata tetap terjaga agar sektor ini tetap menjadi kekuatan ekonomi bagi Batam dan Kepulauan Riau,” tutupnya. (dam)
