BINTAN (HK) – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau akan menyelenggarakan The 3rd Islamic and Malay Studies International Conference (IMSIC) pada 11–12 November 2026. Mengusung tema “Preserving Memory, Sustaining Culture, Empowering Communities for Sustainable Development”, konferensi internasional ini menjadi ruang akademik untuk mempertemukan gagasan, hasil penelitian, dan kolaborasi ilmiah dalam pengembangan kajian Islam dan kemelayuan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
Penyelenggaraan IMSIC ke-3 diarahkan untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pelestarian memori kolektif, keberlanjutan budaya, serta pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Forum ini juga membuka ruang pertukaran perspektif lintas disiplin dan lintas negara mengenai hubungan antara Islam, tradisi, teknologi, pendidikan, lingkungan, dan dinamika sosial kontemporer.
Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Syahrul Rahmat, M.Hum., menyampaikan bahwa IMSIC merupakan wadah akademik untuk memperluas dialog ilmiah sekaligus memperkuat relevansi kajian Islam dan kemelayuan dalam menjawab tantangan masyarakat modern.
“Melalui IMSIC ke-3, kami ingin menghadirkan ruang pertemuan ilmiah yang tidak hanya memperkaya diskursus akademik, tetapi juga mendorong lahirnya gagasan dan rekomendasi yang relevan bagi pelestarian warisan budaya, penguatan identitas masyarakat, serta pembangunan berkelanjutan,” ujar Syahrul Rahmat.
Ia menambahkan, tema konferensi menegaskan pentingnya menjaga memori sejarah dan warisan budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat, sekaligus mengembangkannya menjadi sumber pengetahuan dan kekuatan dalam menghadapi perubahan zaman.
Ketua STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Prof. Dr. Azni, S.Ag., M.Ag., menyampaikan bahwa penyelenggaraan IMSIC menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi untuk memperkuat kontribusi keilmuan Islam dan kemelayuan dalam percakapan akademik internasional. Kajian Islam dan budaya Melayu dinilai memiliki relevansi penting dalam memahami identitas, sejarah, serta dinamika masyarakat di tengah perubahan global.
“Konferensi internasional ini diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan gagasan yang mempertemukan perspektif akademik dari berbagai negara. Melalui kajian Islam dan kemelayuan, kita dapat menggali warisan intelektual dan budaya sekaligus mengembangkan pemikiran yang relevan bagi pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan,” demikian draf pernyataan Ketua STAIN Kepri.
IMSIC ke-3 akan menghadirkan perspektif akademisi dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga internasional.
Nama-nama yang tercantum dalam daftar calon pembicara meliputi Dr. Bronwyn Anne Beech Jones dari University of Melbourne, Australia; Prof. Dr. Jajang A. Rohmana, M.Ag., dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia; Dr. Budi Waluyo, FHEA, dari Walailak University, Thailand; Dr. Vivienne Wee dari Ethnographica Private Limited, Singapura; serta Prof. Euis Amalia, M.Ag., dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selain menghadirkan akademisi dari luar institusi, konferensi ini juga direncanakan melibatkan sejumlah pembicara internal dari STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau. Keterlibatan sivitas akademika internal menjadi bagian dari kontribusi institusi dalam memperkuat diskursus ilmiah, memperluas pertukaran gagasan, serta menampilkan pemikiran dan hasil penelitian dalam forum akademik internasional.
Pertemuan perspektif dari pembicara berbagai institusi diharapkan dapat memperkaya pembahasan dan memperluas jejaring kolaborasi dalam pengembangan kajian Islam dan kemelayuan.
Konferensi ini mencakup tujuh subtema utama, yaitu Pemikiran Islam dan Studi Al-Qur’an; Humaniora, Warisan, dan Memori Budaya; Pendidikan dan Pembelajaran Islam; Syariah, Hukum Islam, dan Kajian Hukum; Ekonomi Islam, Keuangan, dan Industri Halal; Ekoteologi, Lingkungan, dan Sains; serta Bahasa, Sastra, dan Kajian Melayu.
Cakupan subtema tersebut memberikan ruang bagi pembahasan beragam isu, mulai dari pemikiran dan epistemologi Islam, tafsir Al-Qur’an, manuskrip dan warisan intelektual Melayu, pendidikan berbasis budaya, perkembangan hukum Islam, ekonomi dan industri halal, etika lingkungan, hingga bahasa, sastra, dan identitas masyarakat.
Keragaman bidang ini mencerminkan pendekatan interdisipliner yang menghubungkan khazanah keislaman dan kemelayuan dengan berbagai tantangan kontemporer.
Melalui penyelenggaraan IMSIC ke-3, STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau berharap konferensi ini dapat memperkuat posisi kajian Islam dan kemelayuan dalam percakapan akademik internasional, mendorong pertukaran pengetahuan lintas negara, serta membangun jejaring kerja sama yang produktif antara perguruan tinggi, peneliti, dan masyarakat.
Dengan demikian, pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berkontribusi terhadap kemajuan akademik, tetapi juga mendukung pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat menuju pembangunan berkelanjutan. (r/eza)





