BATAM (HK) – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tetap menunjukkan performa kuat di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Pada triwulan III 2025, ekonomi Kepri tumbuh impresif sebesar 7,48% (yoy), jauh di atas capaian nasional yang berada pada level 5,04% (yoy) dan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Pertumbuhan ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan ekonomi tertinggi di Sumatera dan ketiga tertinggi secara nasional.
Sejumlah sektor strategis seperti industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, serta perdagangan terus menjadi motor utama perekonomian daerah.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terutama didorong oleh kuatnya investasi, net ekspor, dan konsumsi rumah tangga.
“Capaian ini mencerminkan ketahanan ekonomi Kepri yang terus membaik. Sinergi kebijakan yang kuat menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan global,” ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Ardhienus dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 yang berlangsung di Batam, Jumat (28/11/2025).
Inflasi nasional dan daerah juga terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1%. Pada Oktober 2025, inflasi Kepri tercatat sebesar 0,36% (mtm) atau 3,01% (yoy).
Stabilnya inflasi mencerminkan efektivitas Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Kepri melalui strategi 4K: keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, dan komunikasi efektif.
Kinerja perbankan turut berkontribusi menjaga stabilitas ekonomi melalui pertumbuhan kredit, aset, dan Dana Pihak Ketiga (DPK), dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) tetap rendah.
Di sisi lain, sistem pembayaran dan digitalisasi keuangan semakin menguat. Bank Indonesia memperluas pemanfaatan QRIS, BI-Fast, alat pembayaran menggunakan kartu, serta uang elektronik di seluruh wilayah Kepri.
Transaksi QRIS tumbuh signifikan dari sisi pengguna, merchant, volume, maupun nilai. BI Kepri juga aktif mendorong QRIS cross-border, khususnya untuk mendukung transaksi pariwisata internasional mengingat posisi strategis Kepri yang berbatasan dengan negara tetangga.
“Digitalisasi transaksi adalah fondasi ekonomi masa depan. Kami ingin memastikan masyarakat Kepri dapat mengakses layanan pembayaran yang cepat, aman, dan efisien, termasuk untuk mendukung sektor pariwisata dan UMKM,” tambahnya.
Sepanjang 2025, penguatan sinergi lintas instansi terus ditingkatkan melalui TP2ED, TPID, dan TP2DD.
Berbagai kegiatan strategis turut digelar, antara lain Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) yang mencatat penjualan Rp2,98 miliar dari 98 UMKM syariah; Gebyar Melayu Pesisir (GMP) dengan transaksi Rp13,70 miliar dan komitmen pembiayaan Rp3,25 miliar; serta Creative & Innovative Riau Islands Festival (CERNIVAL) yang menghasilkan 126.353 transaksi QRIS.
Gubernur Kepri yang diwakili oleh Penjabat Sekretaris Daerah menyampaikan apresiasinya terhadap kinerja positif tersebut.
“Kami optimistis pertumbuhan ekonomi Kepri akan tetap kuat dan berkelanjutan. Pemerintah Daerah bersama Bank Indonesia akan terus memperkuat kolaborasi, terutama dalam pengembangan digitalisasi, penguatan UMKM, dan stabilitas inflasi,” ujarnya.
Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Kepri pada 2025 tumbuh pada kisaran 6,5–7,3% (yoy) dan 6,4–7,2% (yoy) pada 2026, dengan inflasi tetap berada dalam target 2,5±1%.
Pada kesempatan yang sama, Bank Indonesia memberikan Gurindam Award 2025 kepada delapan mitra strategis dari sektor instansi, perbankan, korporasi, dan UMKM sebagai bentuk apresiasi atas dukungan mereka dalam memperkuat ketahanan ekonomi Kepri. (dam)

