BINTAN (HK) – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau (Kepri) kembali menorehkan prestasi akademik dengan sukses menyelenggarakan The 2nd Islamic and Malay Studies International Conference (IMSIC) 2025, sebuah forum ilmiah internasional yang mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan isu-isu strategis tentang Islam dan budaya Melayu di era transformasi digital.
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 11–12 November 2025, di Auditorium Razali Jaya, Kampus STAIN SAR Kepri, Bintan.
Konferensi dibuka secara resmi oleh Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, yang menegaskan pentingnya peran lembaga pendidikan tinggi Islam dalam menjembatani nilai-nilai tradisi dengan kemajuan teknologi global.
“Kita hidup di era transformasi digital yang mengubah cara manusia belajar, berinteraksi, dan berkomunikasi. Namun, kemajuan ini harus dibimbing oleh nilai-nilai spiritual dan etika Islam agar tidak menggerus jati diri budaya dan moral kita,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr. Faisal menyampaikan bahwa konferensi internasional ini merupakan momentum penting untuk memperkuat kolaborasi akademik lintas negara.
“IMSIC menjadi ruang dialog ilmiah antara cendekiawan dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, dan Amerika Serikat. Diharapkan, kegiatan ini menjadi jembatan kolaborasi riset, publikasi, dan pengembangan keilmuan Islam serta Melayu di tingkat global,” tambahnya.
Ketua Panitia, Sella Kurnia Sari, dalam sambutannya mengungkapkan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan konferensi ini.
Dia menjelaskan bahwa IMSIC 2025 mengusung tema “Bridging Culture, Shaping Future for Islamic Society in the Digital Transformation Era”, yang mencerminkan komitmen STAIN SAR Kepri dalam memperkuat nilai-nilai keislaman dan kemelayuan di tengah arus digitalisasi global.
“Konferensi ini menjadi wadah ilmiah bagi akademisi dari berbagai negara untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta memperkaya perspektif tentang masa depan masyarakat Islam di era digital. Tahun ini, IMSIC mencatat partisipasi 15 presenter luring dan 64 presenter daring dari universitas di Asia, Eropa, Australia, dan Amerika,” jelasnya.
Pada hari pertama, hadir sebagai keynote speaker Prof. Dr. Iswandi Syahputra, Staf Ahli Menteri Agama Republik Indonesia dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menyoroti pentingnya literasi digital dan budaya akademik Islam dalam menghadapi era disrupsi.
Sementara pada hari kedua, Dr. Jan A. Ali dari Western Sydney University, Australia, menyampaikan perspektif global tentang peran nilai-nilai Islam dalam membentuk masyarakat berkeadaban di tengah revolusi teknologi.
Selain kedua keynote speakers, IMSIC 2025 juga dihadiri oleh 10 invited speakers dari berbagai lembaga pendidikan dan penelitian internasional.
Kegiatan ini turut melibatkan dosen-dosen STAIN SAR Kepri sebagai presenter dalam berbagai bidang keilmuan seperti tafsir, komunikasi Islam, pendidikan Islam, sosiologi Islam, hukum Islam, dan ekonomi syariah.
Dalam penutupannya, Dr. Muhammad Faisal menegaskan bahwa konferensi ini bukan hanya ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga sarana memperkuat identitas keilmuan Islam dan Melayu sebagai fondasi pembangunan peradaban yang beretika dan berbudaya.
“Sebagai umat Islam dan pewaris budaya Melayu, kita harus menjadikan warisan keilmuan dan tradisi budaya sebagai dasar inovasi di tengah modernitas. Dengan semangat Bridging Culture, Shaping Future, kita wujudkan masyarakat Islam yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global,” tegasnya.
Pelaksanaan The 2nd IMSIC 2025 menjadi tonggak penting bagi STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau dalam memperkuat peranannya sebagai pusat pengembangan kajian Islam dan Melayu yang unggul, inklusif, dan berwawasan internasional.
Melalui konferensi ini, kampus meneguhkan komitmen untuk terus menghadirkan kontribusi akademik yang berakar pada nilai keislaman dan kemelayuan, sekaligus responsif terhadap tantangan zaman. (r/eza)





