“Silakan kalau coba-coba, karena kita sepakat akan mengamankan dan membangkitkan pariwisata yang ada di Denpasar-Bali. Dan kita punya satu PR (pekerjaan rumah) lagi, kita harus menjaga kamtibmas, memberikan rasa kepercayaan kepada dunia internasional utamanya menyambut pelaksanaan G20,” katanya.
Sebelumnya, Bendesa Adat Kuta I Wayan Wasista mengaku kasus pencurian di wilayah Kuta mulai meninggat pasca-pembukaan pariwisata Bali pada Juli 2021 lalu.
Berdasarkan pengamatan Wasista, biasanya komplotan pencuri dan jambret menyamar sebagai sopir ojek yang nongkrong di pertigaan atau perempatan wilayah Kuta, termasuk sekitar Tugu Peringatan Bom Bali.
Mereka biasanya berpura-pura menjadi seorang sopir ojek dan menawarkan tumpangan kepada wisatawan. Pelaku biasanya mengambil paksa ponsel milik korban saat menolak tawaran atau dalam perjalanan mengantar korban ke tempat tujuan.
“Sering terjadinya aksi pemalakan kepada tamu, kemudian tamu-tamu apalagi yang jalan sendirian itu dikerumuni oleh banyak orang, HP-nya diambil begitu saja tanpa ada yang berani membela,” kata Wasista. (kump)
Sumber: kumparan.com




