Home » Perlawanan Kampung Wisata Sablon Bandung, Merawat Warisan dan Budaya Lokal

Perlawanan Kampung Wisata Sablon Bandung, Merawat Warisan dan Budaya Lokal

0 comment 115 views

BANDUNG (HK) — Bandung dan dunia fashion memiliki hubungan erat. Banyak orang mengidentifikasi Kota Kembang, julukan Bandung, sebagai pusat fashion di Indonesia karena banyak UMKM di sana yang menciptakan produk kreatif yang mendapat pengakuan.

Salah satu daerah yang terkenal sebagai pusat produksi kaus dan sablon di Bandung adalah Kampung Wisata Sablon (KWS) di Jalan Surapati, Gang Muarajeun, Cihaurgeulis, Cibeunying Kaler.

Tidak seperti destinasi wisata umumnya yang selalu ramai dengan pengunjung, Kampung Wisata Sablon sebenarnya hanya merupakan sebuah gang di pemukiman padat penduduk.

Namun, yang membuat kawasan ini unik adalah hampir seluruh penduduknya adalah perajin dan pengusaha sablon.

Kampung Wisata Sablon muncul berkat upaya kolaboratif para pelaku usaha sablon di wilayah tersebut. Namun, jika kita melihat sejarah sablon, industri ini sudah tumbuh secara bertahap di kawasan tersebut sejak tahun 1997.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2018, muncul inisiatif untuk menggagas Kampung Sablon sebagai upaya lebih terorganisir dalam mengembangkan industri sablon di wilayah tersebut.

“Berkat kehadiran Wali Kota, ketika itu adalah Ridwan Kamil. Dia mencanangkan bahwa kita lebih baik Kampung Wisata Sablon karena mengikuti program pemerintah, yaitu kampung wisata. Akhirnya dicanangkanlah Kampung Wisata Sablon hingga sekarang,” ucap Denni Juniardhy Ketua Komunitas KWS kepada detikJabar, belum lama ini.

Namun saat pandemi COVID-19 melanda, Kampung Wisata Sablon (KWS) ikut terdampak, kala itu orderan sangatlah sepi. Sebagian penggiat usaha di kampung tersebut beralih menjadi driver ojek online.

“Jadi ketika terjadinya COVID, kita kan kena imbasnya. Orderan nggak ada, pekerjaan terkena dampak akhirnya banyak para pelaku sablon itu larinya ke ojek online, tapi mereka sih masih ada alat-alatnya, cuma karena orderan sepi akhirnya tugas dari KWS ini lebih ke membangkitkan kembali semangat,” ungkap Denni.

“Kalau cara dari kita pengurus, kita mengadakan bazar atau acara, jadi per setiap bulan yang notabennya para pelaku usaha ini minimal niatnya sudah mulai kembali, dan pengenalan dari Kampung Wisata Sablon ini juga sudah mulai berjalan kembali. Makanya kita mengadakan event-event setiap bulannya, ada event pertunjukan seperti pentas seni budaya yang mengangkat wisatanya. Selain itu, ada pula bazar2 dari para pelaku usaha yang isinya dari kulineran ada dan fashion pun ada,” lanjut Denni.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh para pelaku usaha sablon di Kampung Wisata Sablon (KWS) adalah perlu meningkatkan efisiensi dalam produksi dan penjualan yang saat ini masih mengandalkan sistem konvensional.

Oleh karena itu, Denni berharap agar sesama pengusaha di kampung tersebut dapat mengembangkan produk mandiri dan memasarkannya secara langsung, sehingga dapat meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka.

“Sebenernya kalau tantangan di kita, bagaimana caranya membangun ekonomi kerakyatan yang notabennya UMKM. Harapan dari para pelaku usaha ini lebih luas lagi lapangan usahanya. Karena kan basic kita itu produksi, kalau produksi kan menunggu order,” ucap Denni.

“Jadi bagaimana caranya si para pelaku usaha ini mempunyai produk yang bisa dijual secara langsung. Caranya kita bisa dengan online membuat marketplace, secara offline dengan ikut bazar dan event baik di kita sendiri atau di luar,” lanjutnya.

Dalam rangka memperkenalkan Kampung Wisata Sablon (KWS), berbagai strategi telah diterapkan. Mulai dari membangun citra melalui media sosial dengan melakukan branding, hingga menjalin kolaborasi dengan Dinas dan Instansi Pendidikan.

Kolaborasi ini melibatkan kunjungan-kunjungan edukasi yang berkaitan dengan proses sablon itu sendiri, sehingga memberikan pemahaman lebih luas kepada masyarakat dan pihak terkait mengenai keunikan dan potensi yang dimiliki oleh KWS.

“Kita mencoba berkolaborasi dengan para dinas, seperti melakukan kunjungan-kunjungan edukasi, karena kita lebih ke mengedukasi. Selain dari berkolaborasi dengan para dinas, kita juga berkolaborasi dengan instansi pendidikan. Contoh kemarin banyak yang melakukan tugas KKN, kunjungan dari anak-anak komunitas, kunjungan dari anak-anak TK, anak-anak SD, membuat satu edukasi mereka berkunjung ke tempat kita,” jelas Denni.

Tak hanya itu, Denni sebagai Ketua komunitas KWS pun menyampaikan harapan ke depannya, dia berharap pemerintah lebih memperhatikan Kampung Wisata Sablon.

“Kalau harapan saya sih, mudah-mudahan bisa berkolaborasi lebih ke depannya. Karena kita notabennya menempatkan order-order dari para instansi, intinya lebih di perhatikan para UMKM kita, kesejahteraan UMKM kita yang setelah pandemi kemarin dapat lebih bangkit kembali, lebih maju kembali,” pungkas Denni.

Sumber: DetikJabar

Bagikan :

@2021 – All Right Reserved. Designed and Developed by Harian Haluan Kepri Tim