BATAM (HK) — Kepala sekolah SMK Ibnu Sina, Syamsul Bahri, menyampaikan bahwa Kurikulum Merdeka Belajar yang saat ini diterapkan di SMK Ibnu Sina belum dapat membentuk karakter anak.

Ia pun menyampaikan tujuan dari Kurikulum Merdeka ini adalah membentuk karakter anak yang baik dan aktif, namun belum mampu mewujudkannya.

“Sebenarnya, konsep yang diberikan pun belum bisa membentuk karakter anak malah semakin menambah beban anak, mulai dari administrasi yang sulit serta penerapannya. Seharusnya, bukan kurikulumnya yang diganti, tapi bagaimana pemerintah harus fokus dalam membentuk SDM yang berkarakter mulia, bukan sibuk dalam mengotak-atik kurikulum,” ungkapnya pada Rabu (4/10/2023).

Ia juga menjelaskan bahwa para guru harus dituntut mampu memberikan edukasi serta membentuk karakter anak yang baik sesuai dengan P5, namun pemerintah tidak melihat akar permasalahan yang dialami dalam membentuk karakter anak.

Maka dari itu, pemerintah harus lebih jeli dalam melihat permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan. Konsep dari Kurikulum Merdeka sebenarnya mudah, namun implementasinya sangat sulit. Kurikulum Merdeka bukan cara untuk membentuk karakter anak, tapi malah tertidur anak. Seharusnya, pemerintah menyiapkan guru-guru yang berakhlak, sehingga bisa mendapatkan siswa-siswi yang berakhlak karimah, tambahnya.

Ia pun melanjutkan “Selama Kurikulum Merdeka Belajar ini belum dapat menghasilkan karakter anak yang berkualitas, bahkan semakin banyak korban pembulian, tawuran, siswa membunuh guru, siswa membunuh temannya, anak melompat dari gedung, dan masih banyak tindakan kejahatan lain yang dialami di sekolah-sekolah. Dapat disimpulkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka Belajar ini belum mampu dalam mendidik karakter anak. Menurut saya, Kurikulum Merdeka Belajar ini merupakan kurikulum yang paling buruk,” tegasnya.

Ia menambahkan, salah satu konsep dari kurikulum adalah ketika seorang anak yang dinyatakan tidak lulus kelas harus terisi walaupun IQ anak tersebut sangat di bawah rata-rata.

Menurutnya, hal itu merupakan masalah yang cukup besar, karena anak dipaksa untuk naik kelas walaupun tidak bisa membaca.

“Saya rasa ini yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Merdeka Belajar ini. Seharusnya, titik fokus pemerintah adalah membentuk karakter SDM,” ujarnya.

Kurikulum Merdeka yang dirancang lebih sederhana dan fleksibel diharapkan akan membuat guru fokus pada materi esensial dan peserta didik lebih aktif sesuai dengan minatnya serta ingin mendapatkan siswa-siswi yang membentuk karakter sesuai dengan P5, yaitu pengembangan karakter pelajar untuk dapat hidup dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Namun, belum sesuai dengan harapan dan kenyataan yang dialami di sekolah SMK Ibnu Sina.

Hal senada juga disampaikan oleh Suryono selaku staf kesiswaan, yang mengungkapkan bahwa Kurikulum Merdeka Belajar ini belum mampu membentuk karakter anak sesuai dengan Pancasila.

“Dulu guru diminta untuk memegang satu mata pelajaran sehingga guru bisa fokus belajar serta membentuk karakter anak. Sementara dalam program ini, guru dituntut untuk memegang tidak hanya satu mata pelajaran, namun lebih dari dua mata pelajaran. Ini, menurut saya, yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. Kasihan bagi yang sudah tua, saya rasa sangat kesulitan dalam melakukan hal ini,” paparnya.

Ia pun berharap pemerintah lebih memprioritaskan SDM yang memiliki dasar guru sesuai dengan keahliannya dalam pendidikan karena ini salah satu yang bisa membentuk karakter anak.

“Semoga ke depannya sistem pendidikan di negeri kita semakin maju dan program Kurikulum Merdeka Belajar ini bisa menghasilkan anak-anak yang berkualitas dan berkarakter sesuai dengan P5,” sambungnya.

Share.

Alamat Kantor :  Bengkong   Garama,   Kel. Tanjung Buntung,   Kec. Bengkong, Kota Batam,   Provinsi Kepulauan Riau 29432

Nomor Kontak :  0813-7419-3939 / 082172547747

Exit mobile version