“Kesadaran wisata kita semua harus terbentuk dulu. Kenapa Daik ini sebagai pusatnya, tentu dengan sejarah yang sangat panjang. Maka, itu kita semua masyarakat Daik harus paham, harus bisa jadi guide-nya nanti. Tempat wisata juga harus dipersiapkan dari sekarang,” kata dia.
Nizar berharap setelah kegiatan pembuka ini, gotong royong bisa dilanjutkan oleh Kecamatan dan Kelurahan setiap minggunya, dan menata destinasi-destinasi wisata sejarah dan lainnya, atau sekedar membersihkan jalan-jalan utama, rumah, dan lainnya.
Adapun lokasi gotong royong hari ini, jelas Nizar, yakni Lapangan Hangtuah, Kompleks masuk Istana Damnah, Replika istana Damnah, Lubuk Papan, Istana Kota Batu, sepanjang Jalan Sawah Indah, Kampung Pahang dan Kampung Tande, Masjid Jami’ Sultan Lingga.
“Artinya, pemerintah daerah juga telah merancang beberapa kegiatan yang bersentuhan dengan kesadaran wisata masyarakat, mulai dari sosialisasi hingga dengan pelatihan-pelatihan UMKM dan potensi ekonomi lainnya,” kata Bupati Lingga.
Terkait keseriusan pemerintah daerah dalam hal ini, telah digaungkan Bupati, Muhammad Nizar jauh sebelumnya.
Tentu dengan dasar Daik sebagai pusat Tamadun, atau negeri pemerintahan para Sultan Melayu, dengan masa pemerintahan cukup lama yakni 1787 – 1900.
Setelah itu baru berpindah pusat ke Pulau Penyengat yang hanya bertahan lebih kurang 13 tahun, sebelum dibubarkan oleh Belanda. (tbn)




